Ads

Sunday, February 10, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 039

<<== Kembali <<==

Kalau diingat betapa dalam waktu beberapa bulan saja ia telah dapat menanjak dari seorang abdi dalem pangeran menjadi selir terkasih sang prabu, sesungguhnya kenaikan derajat ini sudahhal yang luar biasa sekali, apalagi kalau diingat bahwa Suminten hanyalah seorang yang berasal dari desa. Namun, bagi Suminten hal ini masih belum memuaskan hatinya, masih jauh daripada memuaskan. Ia melihat ada hal-hal yang masih menjadi rintangan baginya untuk mencapai anak tangga tertinggi.

Hal pertama adalah sang ratu atau permaisuri sendiri. Betapapun juga tinggi kedudukannya, ia hanya seorang selir termuda, tentu tidak akan dapat mengalahkan pengaruh sang ratu, maka sang ratu merupakan sebuah perintang baginya. Akan tetapi, ia tidak begitu memusingkan hal ini karena sang ratu harus dianggap rintangan terakhir. Yang amat menyakitkan hatinya adalah rintangan di depan mata, yang membuat Suminten gemas sekali. Rintangan ini berupa seorang selir lain yang sebelum Suminten diangkat menjadi selir, merupakan selir tercinta dari sang prabu. Selir ini adalah Puteri Sekarmadu yang baru berusia dua puluh lima tahun dan sudah lima tahun menjadi selir sang prabu. Puteri Sekarmadu memang cantik jelita, pendiam, pandai segala macam kesenian, berwatak halus dan memang dia adalah puteri seorang adipati di Kanigoro yang dipersembahkan kepada sang prabu oleh sang adipati.

Puteri Sekarmadu adalah yang tercantik di antara semua selir, namun setelah di situ ada Suminten, puteri ini biarpun pada dasarnya menang cantik, namun kalah pandai dalam keluwesan dan gaya memikat. Puteri Sekarmadu maklum akan segala polah tingkah Suminten, maklum betapa selir termuda ini, berbeda dengan lain-lain selir, berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan hati sang prabu, sebagai seorang puteri yang pandai membawa sikap, Sekarmadu tidak membuat reaksi apa-apa. Betapapun juga, sang prabu tidak pernah dapat melupakan Sekarmadu dan biarpun ia kini seolah-olah menjadi selemas rambut yang dipermainkan oleh jari-jari tangan Suminten yang cekatan, namun sang prabu masih saja mendekati Sekarmadu dan membagi waktunya secara bergilir.

Bagi Suminten, tentu saja ia tidak mencinta sang prabu setulus hatinya. Mana mungkin dia, seorang dara remaja berusia tujuh belas tahun, dapat mencurahkan kasih sayang yang setulusnya terhadap seorang kakek berusia enam puluh tahun? Tidak, ia muak terhadap belaian kasih sayang dan pencurahan cinta asmara sang prabu, dan dia sama sekali tidak cemburu atau iri hati terhadap Sekarmadu. Yang membuat ia gemas. adalah karena Sekarmadu dianggapnya sebuah rintangan yang harus dienyahkan kalau ia mau cepat-cepat mencapai cita-citanya. Namun, bagaimana ia dapat menjatuhkan Sekarmadu yang demikian pendiam, halus tutur sapanya, lemah lembut budinya, dan sukar dicari kesalahannya itu? Namun dengan sabar dan tekun Suminten mengatur semua rencana, mendekati semua selir, berbaik dan mengambil hati mereka, sambil menanti saat dan kesempatan yang baik untuk menghalau rintangan-rintangan itu, satu demi satu!

Kalau ada orang mengira bahwa selir-selir raja di jaman dahulu yang begitu banyaknya itu dapat hidup rukun, dia mengira keliru. Memang pada lahirnya mereka ini tampak rukun, namun sesungguhnya tidak demikianlah di dalam hati. Kalau mereka tampak rukun, dan tidak pernah bertengkar, adalah karena mereka ini takut kepada raja dan kebencian mereka satu sama lain hanya diutarakan secara diam-diam dan dengan jalan saling membicarakan keburukan masing-masing di belakang punggung. Karena maklum akan keadaan para selir sang prabu di Jenggala ini, maka secara cerdik sekali Suminten mendekati mereka semua dengan sikapnya yang mengambil hati dan merendah sehingga mereka semua merasa suka kepadanya dan menganggap selir termuda ini sebagai sahabat baik. Mulai-lah Suminten mengorek-ngorek rahasia pribadi masing-masing selir itu melalui selir-selir lainnya, membuat mereka saling membicarakan rahasia dan keburukan masing-masing sehingga Suminten dapat mengetahui sebagian besar cacad dan keburukan para selir yang menjadi saingannya.

Pada suatu malam terang bulan yang amat indah. Hawa malam itu sejuk sekali di dalam taman, berbeda dengan hawa di dalam kamar yang panas. Suminten duduk sendirian di dalam taman sari yang sunyi. Malam sudah mendekati tengah malam, semua penghuni keputren di mana para selir tinggal, telah tidur pulas, demikian pula para abdi dalem. Namun Suminten masih duduk melamun di taman sari. Hatinya tidak puas. Malam itu sang prabu menjatuhkan giliran kepada Sekarmadu. Hatinya panas. Bukan karena cemburu, karena dia sendiri sesungguhnya tidak pernah merasa senang apalagi cinta kepada sang prabu yang sudah tua. Hanya ia merasa panas dan tidak senang karena kenyataan bahwa sang prabu masih melekat kepada Sekarmadu itu berarti bahwa cita-citanya untuk naik ke tangga tertinggi menghadapi rintangan berat.

"Gilang-gemilang bulan purnama

taman sari bermandi cahaya kencana
termenung sendiri dewi jelita
seperti Bathari Komaratih
Dewl Asmara."

Suminten kaget dan ketika ia menoleh dan melihat siapa orangnya yang berpantun dengan suara merdu dan penuh rayuan itu, bibirnya yang manis berjebi, matanya mengerling tajam. Lalu dengan gerakan yang genIt ia membuang muka.

Laki-laki itu masIh muda, tampan dan tubuhnya tinggi besar. Uslanya antara dua puluh lima tahun, pakaiannya indah. Dia ini adalah Pangeran Kukutan, seorang di antara banyak pangeran putera sang prabu terlahir dari para selir. Pangeran Kukutan ini adalah putera selir yang kini telah tua dan "tidak terpakai lagi" oleh sang prabu, seolah-olah telah di "pensiun". Namun sebagai selir raja mempunyai seorang putera, tentu hidupnya terjamtn, juga Pangeran Kukutan mendapat kedudukan terhormat seperti para pangeran lain.

Berdebar jantung Suminten, biarpun ia pura-pura membuang muka sambil berjebi., Pangeran Kukutan ini sudah lama menaruh hati kepadanya, semenjak ia menjadi abdi dalem dan belum dIselir sang prabu. Kalau ia mau, ia tidak akan menjadi selir sang prabu, tentu didahului dan diselir pangeran ini. Akan tetapi, Suminten yang bercita-cita tinggi selalu menolaknya dan lebih suka menjadi selir sang prabu, sungguhpun di dalam hatinya seringkali mengenangkan pangeran yang muda dan tampan ini. Namun, ia seorang wanita yang amat cerdik dan la tidak mau membiarkan dirinya terseret oleh perasaannya karena hal ini akan membahayakan kedudukannya dan dapat menyeretnya turun kembali ke tingkat paling bawah! Maka ia selalu menghadapi Pangeran Kukutan seperti seekor burung dara yang sukar ditangkap, jinak-jinak merpati. Rasa sukanya kepada pangeran muda dan tampan gagah ini membuat ia jika bertemu melempar kerling memperlihatkan senyum, akan tetapi kewaspadaannya untuk mencapai cita-cita membuat ia selalu mengelak dari perangkap-perangkap asmara yang dipasang oleh sang pangeran.

"Aduhai juita ............ jelita yang tiada bandingnya di atas permukaan bumi ini............ , agaknya para dewata memang telah menjodohkan kita, siapa mengira bahwa hamba yang tak dapat tidur dan berjalan-jalan di sini akan bertemu dengan dewi pujaan hati............ !" kata sang pangeran dengan suara merayu dan duduklah pangeran itu di atas bangku, dekat Suminten.

Suminten merasa akan kehadiran tubuh pria itu yang duduk begitu dekat di sampingnya. Kedua kakinya menggigil, jantungnya berdebar tegang, dan rasa bahagia menyelundup di hati mendengar kata-kata yang amat indah baginya itu. Selama menjadi selir sang prabu, ia tidak pernah mendengar rayuan seperti itu, melainkan suara sang prabu yang berwibawa dan memerintah, kasih sayang sang prabu yang kaku dan tidak merayu, dengus napas tuanya yang terengah-engah, tubuh tuanya yang lemah dan terlalu sering membutuhkan pijat sehingga melelahkan kedua tangannya. Kekerasan hatinya mulai mencair seperti lilin kepanasan dan seluruh urat syarafnya tegang dilanda berahi, membuat ia ingin sekali menjatuhkan dirinya dalam dekapan lengan yang kuat, bersandar pada dada yang bidang itu. Akan tetapi, Suminten menekan perasaannya dan tanpa menoleh ia berkata, suaranya diketus-ketuskan,

"Pangeran, mau apa engkau ke sini? Dan mengapa berani mengeluarkan kata-kata seperti itu, duduk bersanding dengan aku? Lupakah engkau bahwa aku adalah ibumu juga, selir daripada ramandamu?"

"Heh-heh," sang pangeran terkekeh perlahan, "kalau begitu, aku adalah anakmu?"

"Tentu saja engkau anakku! Anak tiri, karena engkau putera sang prabu!" kata Suminten yang belum berani menoleh karena ia mendengar suara pangeran itu amat dekat di telinga kanannya sehingga kalau ia menoleh, muka mereka akan berhadapan dan berdekatan sekali.

Kembali Pangeran Kukutan terkekeh, suara ketawanya merdu terdengar oleh telinga Suminten, berbeda dengan suara tertawa sang prabu yang serak terbabah diseling batuk!

"Ha-ha-ha ............ , kalau begitu, biarlah aku menjadi puteramu, dan engkau ibuku. Duhai ibunda yang cantik manis seperti dewi kahyangan, terimalah sembah bakti puteranda!" Pangeran muda itu sambil tersenyum-senyum lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten, menyembah dan mencium ujung kainnya.

Mau tidak mau Suminten kini memandang dan menunduk. Alangkah bagusnya kepala yang berambut hitam tebal itu, tidak seperti kepala sang prabu yang sudah botak dan rambutnya yang jarang dan memutih. Pundak yang lebar, dada yang bidang dan menonjol kekar, oto-totot melingkar kuat, perut yang rata dan kuat, semua tampak di balik baju pemuda itu yang terbuka di sebelah depan. Kulit yang halus padat, sama sekali tidak ada keriput. Berbeda dengan tubuh sang prabu dengan perutnya yang gendut, dadanya yang kerempeng, pundak yang menunduk, otot-ototnya sudah layu!

Suminten yang cerdik tidak membiarkan dirinya terseret oleh berahi, namun ia mempergunakan perhitungan dalam otaknya, perhitungan untung ruginya, kalau ia menuruti nafsunya menerima bujuk rayu pemuda ganteng ini. Ah, memang dia membutuhkan pembantu-pembantu untuk dapat mencapai cita-citanya. Dan agaknya Pangeran Kukutan ini dapat ditarik menjadi pembantu pertama dan pembantu utama.

Pertama karena dia seorang pangeran yang selalu berada di istana, dekat dengannya. Ke dua, karena ia telah mengetahui rahasia ibunda pangeran ini, selir ke tiga sang prabu sehingga ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya, apalagi kalau ia berhasil menundukkannya dengan keindahan wajah dan tubuhnya. Banyak sekali keuntungan didapat kalau ia melayani pangeran ini, pikir otaknya yang cerdik sementara jantungnya makin berdebar keras dan mulai terbakar nafsu berahi ketika pangeran itu sesudah menyembah lalu memegang kedua kakinya dan mengelus-elus kedua kaki kecil itu dengan jari-jari tangan yang nakal dan pandai membelai. Ketika ia merasa betapa jari-jari tangan itu dari kaki makin merayap naik, ia menegur dan mengibaskan tangannya,

"Ihhhh ............ Pangeran, engkau tak tahu susila!"

Pangeran Kukutan yang masih berlutut itu menengadahkan mukanya, memandang wajah Suminten dengan sepasang mata memancarkan sinar kasih sayang yang tenggelam dalam nafsu berahi yang berkobar-kobar, mulutnya tersenyum penuh ajakan dan ia berkata, suaranya tetap halus merdu dan jenaka,

"Elhoo ............ Bukankah aku puteramu dan kau ibuku? Aduh, Kanjeng Ibu, aku minta dipangku!" Dan pangeran itu lalu betul-betul menjatuhkan mukanya dl atas pangkuan Suminten, kedua lengannya memeluk pinggang yang ramping itu.

"Aiihhh ............ I" Suminten menjerit lirlh karena geli, pinggangnya menggeliat.

Akan tetapi Pangeran Kukutan yang sudah sepenuhnya dikuasai nafsu berahi itu, makin menggila.
"Ibunda yang cantik jelita, anakmu ini minta cium, minta emik (menyusu), minta kelon (ditemani tidur)!" Berkata demikian, pangeran itu melanjutkan belaiannya dan menciumi Suminten.

"Iihhhh ............ aaahhh............ ; Pangeran Kukutan, berhenti atau ............ aku akan menjerit!"

Ancaman ini berhasil. Pangeran Kukutan tentu saja merasa takut karena kalau sampai "ibu tirinya" ini benar-benar menjerit sehingga perbuatannya diketahui oleh sang prabu, ia tentu akan celaka. Akan tetapi pada saat itu, nafsu berahi telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan suaranya menggigil ketika ia berbisik,

"Duhai Adinda Suminten, telah terlampau lama aku menyimpan cinta asmara di dalam hati terhadap Adinda, tak tertahankan lagi ..... ah, adinia, kasihanilah kakanda ini..........”

Suminten juga menggigil seluruh tubuhnya. Perbuatan nakal pangeran tadi seolah-olah telah membakar tubuhnya, membuat nafsunya sendiri menyala-nyala, matanya setengah terpejam, bibirnya ditarik seperti orang tersiksa nyeri, hidungnya yang kecil mancung kembang-kempis, tarikan napasnya terdengar, tersendat-sendat, kedua tangannya digenggam erat-erat. Hanya kecerdikan otaknya sajalah yang tadi dapat membuat ia kuasa menahan diri. Kemudian la menunduk, memandang tubuh pangeran yang berlutut di depannya itu, tersenyum puas dan girang. Satu hal sudah nyata, ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya dengan pengaruh asmara. Akan tetapi ia masih belum puas. Pengaruh itu belum meyakinkan karena ia mau agar supaya pangeran muda ini benar-benar bersetia kepadanya, setia sampai mati. Maka ia lalu berkata perlahan,

"Pangeran Kukutan, sebelum aku membiarkan kau menurutkan keinginan hatimu itu, lebih dulu kaudengarkan baik-baik kata-kataku. Mataku juga tidak buta dan aku dapat melihat bahwa sudah lama engkau mencintaku. Akan tetapi, pangeran. Cinta kasih seorang pria terhadap wanita adalah cinta kasih sementara saja seperti orang mencinta setangkai bunga yang harum. Kalau sudah kenyang menikmati keharuman bunga sampai bunga itu layu dan tidak harum lagi, akan berhentilah cinta kasihnya dan bunga layu itu akan dibuang begitu saja! Berahi seorang pria seperti orang makan tebu. Setelah kenyang mengunyah, menghisap sampai habis sari manisnya, dia akan mencampakkan sepahnya begitu saja! Aku tidak sudi kelak kauperlakukan seperti setangkai bunga atau sebatang tebu ......"

"Aduh, kekasih hati pujaan kalbu! Demi Sang Hyang Bathara Kamajaya, dewa segala cinta asmara di jagat ini, aku bersumpah akan bersetia dalam cinta kasihku terhadapmu“

"Bukan hanya kesetiaan yang kukehendaki, pangeran, melainkan juga ketaatan. Terutama sekali ketaatan. Engkau akan melakukan segala permintaanku?"

"Demi para dewata! Perintahkan apa saja, juwitaku, akan kulaksanakan. Engkau menghendaki aku menyeberangi lautan api? Bilamana saja, aku siap!".

Suminten tersenyum, sengaja membuat senyuman mengejek tidak percaya.

"Sesungguhnyakah?"

"Demi nyawaku ............ !" Pangeran Kukutan hendak memeluk lagi akan tetapi Suminten menahan dengan kedua tangannya.

"Nanti dulu, pangeran. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Andaikata............ ini umpamanya saja untuk mengukur besarnya kesetiaanmu kepadaku, andaikata sekali waktu aku minta engkau ............ membunuh sang prabu, bagaimana jawabmu?"

Pangeran Kukutan terbelalak dan meloncat mundur dalam keadaan berjongkok saking kagetnya. Sejenak ia tidak kuasa menjawab, hanya memandang wanita jelita itu dengan mata terbelalak, kaget dan khawatir. Bahkan ia sudah menoleh ke kanan-kiri, khawatir kalau-kalau ucapan tadi terdengar lain telinga.

"Apa......... ? Apa yang kaukatakan ini ............ ? Harap kau jangan main-main, adinda Suminten........“

Suminten tetap tersenyum, lalu berkata sambil memandang tajam,
"Engkau pun tidak perlu berpura-pura, Pangeran Kukutan. Kita harus berterus terang, saling membuka kartu. Biarpun aku selir termuda dan tersayang, namun tentu saja aku yang muda dan cantik ini tidak mencinta sang prabu yang tua dan lemah, bahkan aku............ aku membenci tua bangka itu! Dan engkau ............ , engkau sama juga. Jangan kaukira bahwa aku tidak tahu. Engkau ............ bukan putera sang prabu. Aku sudah tahu bahwa dahulu ibumu melakukan hubungan rahasia dengan ki juru taman (penjaga taman) dan engkau adalah keturunan ki juru taman. Nah, sekarang katakan terus terang, bersediakah engkau bersekutu denganku dalam segala hal dan selalu akan tunduk terhadap perintahku?"

Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat sekali. Sejenak ia ketakutan dan hampir saja timbul kenekatan hatinya untuk membunuh wanita yang tahu akan rahasia ibunya akan hal itu. Akan tetapi mendengar kalimat-kalimat selanjutnya, hatinya lega. Memang dia pun selalu menanti kesempatan untuk dapat merampas kekuasaan karena maklum bahwa kelak kedudukan raja tentu tidak akan diturunkan kepadanya. Hatinya lega, wanita ini cerdik bukan main, dan amat dekat dengan raja, mungkin tidak akan ada ruginya kalau ia bersekutu dengannya. Apalagi dengan hadiah balasan cinta kasih!

"Aku bersedia dan bersumpah akan bersetia kepadamu, adinda Suminten yang cerdik pandai. Bahkan aku girang sekali mendapat sekutu seperti adinda, karena dalam segala hal tentu adinda lebih pandai mengaturnya daripada aku."

Suminten girang sekali, ia bangkit berdiri dan tertawa lirih.

"Bagus sekali, pangeran. Aku percaya akan kesetiaanmu, apalagi karena sekali kau berbuat curang, engkau dan ibumu akan celaka. Kau cukup tahu akan kekuasaanku atas diri sang prabu. Nah, kini lega hatiku dan terimalah hadiahku. Mari ............ !"

Wanita muda jelita itu mengulurkan dan mengembangkan kedua lengannya ke arah Pangeran Kukutan. Pemuda itu mengeluarkan sorak perlahan saking girangnya, lalu bangkit dan menubruk Suminten seperti seekor singa kelaparan menubruk seekor domba. Mereka berdekapan dan berciuman dengan buas, seperti orang-orang kelaparan menghadapi nasi.

"Hushhhh ............ kau gila, pangeran? Jangan di sini! Bawa aku ke pondok taman............ !" bisik Suminten di dekat telinga pangeran itu.

Pangeran Kukutan tidak menjawab karena sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata di antara napasnya yang tersendat-sendat dan terengah-engah. Ia lalu memondong tubuh yang baginya amat ringan itu dan membawanya lari ke dalam gelap, menyelinap antara pohon-pohon dan rumpun bunga, kemudian menghilang ke dalam sebuah pondok kecil mungil yang memang sengaja dibangun di dalam taman itu sebagai tempat istirahat raja dan para selirnya.

Memang tidaklah mengherankan apabila semenjak malam hari penuh gairah nafsu iblis itu, Suminten selalu mengadakan pertemuan dan perhubungan gelap dengan Pangeran Kukutan, setiap malam apabila sang prabu tidak tidur di kamarnya. Semenjak masih perawan, Suminten diselir sang prabu dan selama itu ia hanya mengenal belaian kasih asmara sang prabu yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, yang tentu saja tidak sesuai dengan keadaan jasmaninya sendiri yang masih muda belia. Namun, wanita muda yang amat cerdik ini biarpun terbuai gelombang asmara, tetap ia masih dapat menguasai keadaan dan bukanlah dia yang dipermainkan oleh sang pangeran, melainkan si pangeran inilah yang makin lama makin mabuk dan jatuh terkulai, tunduk di bawah pengaruh Suminten.

Sedemikian hebat kekuasaan wanita ini atas diri pangeran yang menjadi kekasihnya sehingga sang pangeran akan mentaati segala macam perintahnya secara membuta, biar disuruh mencuci kaki Suminten akan dilakukan dengan penuh kesungguhanl

Betapapun juga, nafsu berahi yang menguasai hati Suminten membuat wanita ini alpa. Dia lupa bahwa semua gerak-geriknya tidak terluput daripada pengintaian wanita yang menjadi saingannya, yaitu Sekarmadu. Selir inipun menggunakan seorang emban (pelayan) untuk mengawasi gerak-gerik Suminten dan pada suatu hari ia mendapat pelaporan mata-matanya bahwa Suminten seringkali mengadakan pertemuan gelap dengan Pangeran Kukutan di dalam pondok taman. Mendengar ini, Sekarmadu tertawa lebar, kemudian mengepal tangannya menjadi tinju kecil dan berkata,

"Nah, sekarang mampuslah engkau, perempuan rendah!"

Sekarmadu menanti saat balk. Ketika sang prabu kebetulan bergilir kepada selir lain, suatu hal yang jarang sekali terjadi semenjak Suminten menjadi selirnya, dan emban yang menjadi mata-mata Sekarmadu melaporkan bahwa Pangeran Kukutan dan Suminten sudah berada di pondok taman, selir ini sendiri bersama embannya menyelinap memasuki taman, menghampiri pondok dengan hati-hati. Sang emban yang merasa takut karena urusan ini menyangkut selir sang prabu yang terkasih dan seorang pangeran muda, berjongkok di luar pondok. Dengan tubuh menggigil karena ia maklum bahwa tentu akan terjadl peristlwa hebat. Adapun Sekarmadu dengan hati panas penuh kemarahan lalu mendekati jendela, mengintai dan mendengarkan.

Di dalam pondok itu gelap remang-remang, hanya tampak bayangan dua orang yang tidak jelas. Akan tetapi suara percakapan mereka jelas mudah dikenal, yaitu suara Suminten dan Pangeran Kukutan. Dengan jantung berdebar-debar, Sekarmadu mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan lirih-lirih,

“............ kekasihku wong bagus (orang tampan), betapa kuatnya engkau tidak seperti sang prabu yang loyo”

“........... dan engkau wanita tercantik di dunia ini, pujaan hatiku ............ “

Sekarmadu tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Dari luar jendela, ia memaki,
"Suminten perempuan rendah, perempuan hina! Berani engkau bermain gila dengan Pangeran Kukutan dan masih menghina sang prabu lagi. Tunggu saja, habiskan kesenanganmu malam ini karena besok engkau akan mampus!" Setelah berkata demikian, Sekarmadu dengan muka merah saking marahnya meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya, diikuti emban yang masih ketakutan. Betapapun juga, Sekarmadu tidak mau menimbulkan keributan malam hari itu karena sang prabu sedang bermalam di kamar sellr ke tujuh. Karena hal ini amat memalukan, juga bagi sang prabu sendiri, maka Sekarmadu yang menghormati suaminya menahan gelora kemarahannya malam itu, hendak menanti sampai besok baru ia akan melapor secara diam-diam kepada junjungannya.

Adapun Suminten dan Pangeran Kukutan yang sedang langen asmara (bermain cinta) di dalam pondok taman, seolah-olah berubah menjadi arca saking kagetnya. Kalau di malam hari yang terang tiada mendung itu tiba-tiba terdengar Halilintar menyambar, agaknya mereka tidak akan sekaget ketika mendengar suara Sekarmadu di luar jendela. Pangeran Kukutan menjadi pucat dan tak dapat berkata sesuatu. Sumintenlah yang lebih dulu sadar dan dapat menguasai hatinya. Wanita ini mendorong tubuh kekasihnya dan melompat turun dari pembaringan, berkemas sambil berkata,

"Hayo cepat, kita harus turun tangan lebih dulu!"

Mendengar suara kekasihnya yang sedikitpun tidak membayangkan rasa takut itu, barulah hati Pangeran Kukutan menjadi tenang. Mereka lalu berbisik-bisik dan Suminten yang cerdik itu mengatur rencananya. Cepat sekali Suminten mengatur rencana dan segera mereka melakukan siasat yang diatur Suminten malam itu juga. Pangeran Kukutan pergi ke pondok kediaman para juru taman, diam-diam memanggil pembantu juru taman yang muda bernama Jagaloka. Adapun Suminten pergi menemui tujuh orang emban pelayan yang menjadi kaki tangannya. Mereka berdua bekerja cepat sesuai dengan siasat Suminten dan tak lama kemudian, Suminten sudah bertemu lagi dengan Pangeran Kukutan yang datang bersama Jagaloka yang muda dan cukup tampan, akan tetapi pada saat itu Jagaloka kelihatan bingung dan takut.

Sekarmadu masih belum tidur. Dia sama sekali tidak dapat tidur, bahkan semenjak memasuki kamarnya, puteri ini berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya, hatinya penuh ketegangan. Ingin sekali ia sekarang juga melapor sang prabu, namun kalau ia melakukan hal ini, tentu banyak selir dan abdi dalem yang mendengar, juga sang prabu dapat menjadi tidak senang hati karena terganggu. Hatinya sudah tidak sabar dan ingin ia malam cepat-cepat berganti pagi agar ia dapat segera melapor dan wanita hina itu segera dihukum! Emban pembantunya yang tadi ketakutan sudah tidur melingkar di atas lantai. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di luar pintu kamarnya. Sekarmadu berhenti melangkah, memutar tubuh menoleh ke arah pintu kamar dan bertanya,

"Siapa di luar?"

Sebagai jawaban pertanyaannya, tiba-tiba pintu kamarnya yang terkunci itu didobrak orang dari luar. Agaknya orang yang mendobraknya itu kuat sekali karena sekali tendang, daun pintu itu terbuka dan muncullah Jagaloka yang wajahnya pucat.

"Ehh ............ , si Jagaloka, mau apa engkau ............ ??" Sekarmadu membentak, heran dan marah.

"Hamba ............ hamba ............ bukankah hamba dipanggil ............ ?”

"Keparat! Jangan kurang ajar engkau! Berani membuka pintu kamarku?"

Pada saat itu, berkelebat masuk bayangan Pangeran Kukutan yang membentak,
"Juru taman bedebah, kau harus mati!" Ucapan Pangeran Kukutan ini disusul terjangannya dengan keris di tangan. Sekali tusuk saja si juru taman yang tentu saja bukan lawan pangeran yang perkasa itu mengeluh dan terhuyung, darah muncrat-muncrat keluar dari ulu hatinya.

Sekarmadu memandang dengan mata terbelalak, hendak menjerit, akan tetapi dengan gerakan sigap sekali Pangeran Kukutan sudah meloncat ke dekatnya dan sekali menggerakkan tangan, pangeran itu sudah merangkulnya dan membungkam mulutnya. Sekarmadu meronta-ronta dan berusaha menjerit, namun sia-sia karena pangeran itu kuat sekali merangkulnya dan kuat pula tangan yang menutupi mulut. Pada saat berikutnya, muncul Suminten yang tersenyum-senyum.

Wanita ini sambil tersenyum genit mendekati Sekarmadu lalu merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sekarmadu, satu demi satu sampai Sekarmadu menjadi telanjang bulat! Setelah itu barulah Pangeran Kukutan melepaskan rangkulannya dan mendorong tubuh wanita yang telanjang itu sampai terlempar dan tertelungkup dalam pembaringannya. Emban yang terbangun oleh suara gaduh ini, memandang terbelalak, saking kaget dan takutnya sampai tak dapat bersuara.

"Bagus sekali engkau perempuan hina-dina, perempuan rendah, pelacur yang terseret memasuki istana!" Suara Suminten terdengar lantang karena ia sengaja mengeluarkan suara seperti menjeri-tjerit, telunjuknya menuding ke arah tubuh Sekarmadu yang telanjang bulat di atas pembaringan.

"Sungguh menjijikkan! Tak tahu malu! Berjina dengan si juru tamanl"

"Apa kau bilang? Kau perempuan keji ............ kau ............ kau!" Akan tetapi wanita yang malang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menangis dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan alas sutera pembaringan karena pada saat itu, para abdi dalem dan beberapa orang selir yang mendengar suara ribut-ribut itu sudah membanjir masuk ke dalam kamar. Mereka berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak, sejenak memandang ke atas pembaringan di mana puteri Sekarmadu rebah dalam keadaan telanjang bulat terbungkus alas pembaringan, kemudian memandang tubuh Jagaloka yang kini juga sudah telanjang bulat dan menjadi mayat berlepotan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, melihat Pangeran Kukutan yang berdiri dengan keris di tangan, tanpa diberitahu sekalipun mereka dapat menduga apa yang telah terjadi! Tentu Sekarmadu berjina dengan si juru taman, akan tetapi dipergoki Pangeran Kukutan dan Suminten yang berakibat kematian juru taman di tangan sang pangeran.

"Tidak ............ ! Tidaaaaaaaakkk ............ Aku tidak ............ !" Sekarmadu menjerit-jerit karena iapun dapat mengerti akan bahaya yang mengancam dirinya.

Gegerlah istana pada malam itu sehingga sang prabu sendiri sampai terkejut, terbangun dan mendengar apa yang terjadi di kamar selirnya yang terkasih, Sekarmadu. Mendengar ini sang prabu marah sekali. Setelah berpakaian rapi, sang prabu duduk di ruangan dalam dan memerintahkan menyeret Sekarmadu menghadap juga memerintahkan agar Suminten dan Pangeran Kukutan menghadap sebagai saksi.

Sekarmadu menangis terisak-isak ketika dua orang pengawal istana menyeretnya, karena ia hampir tidak mampu berdiri, dengan tubuh masih terbungkus sutera merah alas pembaringan, rambutnya terural dan wajahnya pucat. Di belakangnya, Suminten dan Pangeran Kukutan melangkah tenang, namun berbeda dengan wajah Suminten yang berseri-seri tersenyum, wajah Pangeran Kukutan pucat dan kedua kaki tangannya terasa dingin.

Mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sang raja. Suminten yang pandai merayu itu segera berjalan jongkok menghampiri sang prabu, menyembah dan menyentuh kakinya sambil berkata lirih, suaranya serak-serak basah amat mengharukan,

"Hamba mohon beribu ampun bahwa hamba telah menimbulkan keributan, akan tetapi mohon paduka memaklumi betapa panas hati hamba penyaksikan perbuatan tak tahu malu dari perempuan itu yang menghina paduka."

Dengan gerakan halus dan penuh kasih sayang, tangan sang prabu menjamah rambut yang halus berikal mayang itu, kemudian berkata,

"Engkau malah berjasa, Suminten. Mundurlah, biar kuperiksa perkara menjijikkan ini!" Akan tetapi Suminten tidak mundur jauh, menyembah lagi dan berkata,

"Mohon ampun. Junjungan hamba. Perempuan ini amat keji dan palsu, sebelum ia sempat bercerita bohong, harap paduka sudi mendengar dulu kesaksian hamba dan puteranda Pangeran Kukutan."

Sang prabu mengelus-elus jenggotnya sambil memandang selirnya yang terkasih itu.
"Duhai, gusti pujaan hamba ............ sudilah paduka mendengarkan penuturan hamba............ , hamba kena fitnah ............ hamba tidak bersalah ............ dialah perempuan rendah yang hamba yakin menjadi biang keladi fitnah ini! Dia ............ dia dan Pangeran Kukutan ............ !!’

"Diam kau, perempuan terkutukk !! Sang prabu membentak dan pucatlah muka Sekarmadu, maklum bahwa nasibnya sudah ditentukan dengan sikap sri baginda raja itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani membantah, hanya menunduk dan menangis, meratap di dalam hati mohon pertolongan dewata. "Berceritalah kau, Suminten."

Dengan suara lantang Suminten bercerita,
"Malam tadi hamba tidak dapat tidur............ " Ia mengerling tajam kepada sang prabu yang memandangnya dan sang prabu mengangguk-angguk, mulutnya tersenyum maklum, karena ia tahu bahwa seperti biasanya menurut pengakuan Suminten, tiap kali sang prabu tidur dengan selir lain, selir termuda dan tercinta ini tentu tak dapat tidur! "............ karena gelisah dan merasa gerah, hamba keluar dari kamar dengan maksud mencari angin sejuk di taman. Akan tetapi, seperti paduka maklum, jalan menuju ke taman melalui belakang kamar............ perempuan rendah ini. Hamba mendengar suara-suara di dalam kamar, suara kekeh tertawa genit dan cumbu rayu pria. Hamba curiga dan mendengarkan di luar jendela, kemudian hamba yakin bahwa itu adalah suara si perempuan rendah dan si juru taman keparat itu. Kebetulan sekali, pada saat itu, hamba melihat berkelebatnya bayangan orang di taman, dan ketika hamba mengenal bayangan itu adalah puteranda Pangeran Kukutan, hamba lalu memanggilnya dan menceritakan bahwa di kamar perempuan ini ada seorang duratmoko (maling). Demikianlah, Gusti, puteranda pangeran lalu turun tangan membunuh si bedebah juru taman."

==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 040 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment