Ads

Thursday, March 28, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 098

<<== Kembali <<==

Retna Wilis mengerutkan alisnya.
"Ah Paman Adiwijaya, apakah yang terjadi? Ke manakah perginya ibuku dan Siapa kini yang berada di puncak?"

"Saya mendengar bahwa telah lama sekali ibunda meninggalkan Wilis dan semenjak itu, kekuasaan Padepokan Wilis berada di tangan ketiga orang gagah Limanwilis dan dua orang adiknya."

"Ah, ketiga paman Wilis masih berada di puncak? Syukurlah!"

"Akan tetapi, Sang Puteri, ternyata keadaan tidaklah begitu menyenangkan seperti yang paduka kira. Kini puncak telah dikuasai oleh seorang ketua baru, dan Padepokan Wilis
telah berubah menjadi Gerombolan Wilis!"

"Apa? Siapa yang berkuasa di sana?"

"Ketiga orang gagah Wilis telah ditundukkan oleh seorang tokoh jahat yang bernama Ki Walangkoro, seorang tokoh hitam yang kabarnya datang dari Madura."

"Apa? Si keparat!" Retna Wilis menoleh ke belakang dan berkata kepada anak buahnya, "Bersiaplah kalian membuktikan kesetiaan kalian kepadaku! Kita serbu puncak Wilis!"

"Hamba siap, Gusti Puteri!" Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para bekas perajurit Jenggala sehingga hati Sindupati yang kini berganti nama Adiwijaya menjadi makin kagum. Puteri remaja ini benar-benar hebat, pikirnya. Tidak saja memiliki kesaktian yang mengerikan, juga amat berwibawa.

"Saya pun siap membantu paduka, Gusti Puteri," katanya hormat.

Berseri wajah Retna Wilis.
"Bagus, Paman Adiwijaya. Aku girang sekali menerima bantuanmu, dan percayalah, engkau tidak akan rugi menghambakan diri kepadaku. Kelak aku akan menaklukkan seluruh kerajaan dan kalau andika memang benar setia dan berjasa, aku tidak akan melupakan bantuan-bantuanmu."

"Hamba dapat melihat seorang yang sakti dan pandai, Gusti Puteri, dan hamba akan mempertaruhkan jiwa raga hamba untuk membela Paduka."

"Bagus! Hayo kita mendaki terus!"

Sebagai jawaban ucapan Retna Wilis yang penuh semangat ini terdengarlah sorak sorai lima puluh orang anak buahnya itu dan tiba-tiba terdengar sorakan jawaban yang
bergemuruh dari atas. Retna Wilis mengangkat tangan mencegah anak buahnya bergerak maju dan sambil bertolak pinggang dara perkasa ini memandang ke depan.

Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis dan berdiri di sebelah kanannya, juga memandang ke depan. Pasukan yang turun dari atas puncak itu jumlahnya seratus orang lebih, dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar seperti raksasa. Sangat besar dan tinggi tubuh kakek ini sehingga tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis dan dua orang adiknya yang termasuk orang-orang tinggi besar kelihatan kecil, hanya setinggi pundak kakek itu!

Rombongan ini bersorak gembira ketika melihat ada rombongan lain yang mereka anggap sebagai calon-calon korban yang tentu akan dapat dipreteli pakaian dan senjatanya, apalagi melihat ada seorang gadis remaja cantik sekali berada di antara mereka. Akan tetapi tiba-tiba mereka itu berhenti ketika terdengar gadis remaja itu mengeluarkan suara yang amat nyaring dan membuat jantung mereka bergetar,

"Hai para satria Wilis! Beginikah kalian menyambut gusti puteri kalian? Paman Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, apakah mata kalian sudah lamur sehingga tidak mengenal aku?"

Limanwilis dan kedua adiknya, juga para bekas anak buah Endang Patibroto, memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi anak buah-anak buah baru yang tadinya merupakan anak buah Ki Walangkoro yang kini digabungkan dengan anak buah Wilis, tertawa bergelak.

"Waduh, perawan remaja yang genit dan galak!"

Adapun Ki Walangkoro yang juga memiliki kesaktian dan bermata awas, dapat mengenal sinar kesaktian memancar keluar dari wajah dara perkasa itu, menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya seperti geluduk di musim hujan,

"Heh, babo-babo, siapakah andika bocah kemarin sore yang bermulut besar?"

"Hemm, engkau tentu si Walangkoro yang mengacau di Wilis! Mau tahu siapa aku? Akulah Perawan Lembah Wilis, akulah Puteri Retna Wilis. Setelah ibuku Endang Patibroto meninggalkan Wilis, andika lancang berani mengacau di sini, ya? Agaknya engkau sudah bosan hidup, Walangkoro!"

Kini terdengar seruan-seruan kaget dan heran dari mulut Limanwilis dan kedua orang adiknya, juga dari anak buah Wilis. Mereka teringat dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Anak perempuan yang dulu lenyap diculik nenek mengerikan itu kini telah pulang dan menjadi seorang dara remaja yang serupa benar dengan Endang Patibroto, sama cantik jelita dan sama gagah, bahkan jauh lebih galak dan berwibawa! Akan tetapi karena mereka itu sudah merasa menyeleweng dan menghamba kepada pemimpin baru dan karena kehidupan sebagai gerombolan lebih menyenangkan bagi mereka daripada hidup sebagai anggauta-anggauta padepokan yang berdisiplin dan tidak memungkinkan mereka mengumbar nafsu angkara murka, mereka diam saja dan hendak melihat dulu bagaimana sikap pemimpin mereka yang baru dan yang sudah mereka ketahui kesaktiannya itu.

"Babo-babo, si keparat!" Ki Walangkoro memaki. "Dahulu aku mencari Endang Patibroto untuk kutundukkan dan kuangkat menjadi permaisuriku, akan tetapi dia telah
minggat. Kini muncul puterinya yang lebih jelita, lebih denok dan lebih muda. Retna Wilis, eman-eman engkau bocah ayu kalau berani menentang Ki Walangkoro! Lebih baik engkau menyerah, menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sehingga engkau tetap akan disembah-sembah seluruh anak buah di Wilis. Menyerahlah, wong ayu!" Ki Walangkoro bukanlah seorang pria yang mata keranjang, akan tetapi menyaksikan seorang dara yang begini denok dan jelita, gairahnya timbul dan ia hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya, ingin terus memondong dara itu dan dibawa lari ke dalam kamarnya.

"Jahanam bermulut kotor!" Tiba-tiba Adiwijaya meloncat maju, gerakannya trengginas dan sikapnya masih tenang, namun matanya menyorotkan kemarahan.

Sekali ini Adiwijaya benar-benar marah, bukan pura-pura atau hendak mencari muka kepada Retna Wilis. Entah bagaimana, begitu bertemu dengan dara ini, hatinya benar-benar tunduk dan timbul rasa kagum, menyayang dan hormat, sehingga ia tidak suka mendengar orang lain memaki dan menghina gadis itu. Ia lalu menoleh kepada Retna Wilis dan berkata dengan halus,

"Gusti Puteri, perkenankanlah hamba menghajar buto (raksasa) yang bermulut lancang dan kotor ini!"

Berseri wajah Retna Wilis.
"Paman Adiwijaya, dia memiliki sedikit kepandaian, apakah andika mampu melawannya?"

"Gusti Puteri, untuk memukul seekor anjing korengan mengapa harus menggunakan tongkat besar? Sayang tangan Paduka yang akan menjadi kotor kalau menyentuh tubuhnya yang menjijikkan. Hamba akan mencobanya dan hamba rela mati membela Paduka."

Retna Wilis tersenyum. Sikap orang tua ini benar-benar menyenangkan hatinya.
"Jangan khawatir, Paman. Aku tidak akan membiarkan kadal buduk ini mencelakakan seorang pembantu sebaik Paman. Maju dan lawanlah!"

Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadapi Ki Walangkoro, dan dengan sikap tenang ia mencawatkan sarungnya ke belakang dan mengikatkan ujungnya kuat-kuat di pinggang. Kemudian ia berkata lantang,

"Ki Walangkoro! Wilis adalah milik Gusti Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis, akan tetapi engkau telah lancang merampasnya selagi ketuanya tidak
ada. Kini Gusti Puteri Retna Wilis telah pulang dan kalau memang engkau tahu diri, sebaiknya engkau bertekuk lutut dan menakluk, bersama semua pengikutmu menghambakan diri kepada Gusti Puteri. Kalau engkau merasa kuat, cobalah engkau melawan aku. Adiwijaya siap menghadapimu membela kedaulatan Gusti Puteri Retna Wilis!"

Ki Walangkoro memandang Adiwijaya dengan tertawa mengejek dan memandang rendah.

"Namamu Adiwijaya, heh? Omonganmu sungguh menjemukan! Dilihat jumlahnya pengikut, pasukanku dua kali lebih banyak daripada pengikut Retna Wilis! Dilihat pemimpinnya, aku jauh lebih patut dan lebih gagah daripada engkau yang mengaku menjadi pembantunya. Adiwijaya, kulihat engkau lumayan juga, memiliki kesaktian. Apakah tidak lebih baik engkau menjadi pembantuku saja dan Retna Wilis menjadi isteriku? Dengan demikian, keadaan kita menjadi lebih kuat!"

"Si bedebah!" Teriakan ini keluar dari mulut Retna Wilis dan gadis ini saking marahnya sudah mengipatkan lengan lengannya ke arah Ki Walangkoro, dan anehnya ........ tubuh
raksasa yang tinggi besar itu terpelanting seolah-olah ditumbuk palu godam atau diseruduk banteng. Padahal jarak antara dia dan gadis itu ada tiga meter dan dia terpelanting roboh hanya oleh angin kipatan tangan dara perkasa itu!

Kembali Adiwijaya kagum dan ngeri. Dara itu benar-benar sakti mandraguna dan ia bergidik memikirkan betapa ngerinya kalau harus bertanding melawan gadis yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini!

Akan tetapi Ki Walangkoro adalah orang kasar. Dia hanya terbelalak dan merasa heran mengapa dadanya seperti didorong angin badai yang dahsyat tadi. Dia tidak mau mengerti bahkan menjadi marah karena malu. Dengan suara menggereng seperti harimau terluka ia menubruk maju, maksudnya hendak mencengkeram Retna Wilis akan tetapi ia disambut oleh pukulan tangan Adiwijaya ke arah dadanya.

"Desss !!" Ki Walangkoro menangkis dan kedua lengan yang amat kuat bertemu, akibatnya tubuh Adiwijaya terlempar ke belakang sedangkan Ki Walangkoro terhuyung
saja.

"Huah-ha-ha-ha! Adiwijaya, sedemikian saja kekuatanmu dan engkau berani menantang Ki Walangkoro?" Raksasa itu terbahak dan anak buahnya juga tertawa-tawa girang karena dalam gerakan pertama ini jelas tampak bahwa pemimpin mereka lebih besar tenaganya.

Namun Retna Wilis memandang tenang dan diam-diam ia merasa kagum dan senang terhadap pembantunya ini. Dalam pertemuan tenaga tadi, ia pun maklum bahwa dalam hal tenaga kasar, Ki Walangkoro memang kuat, akan tetapi biarpun tubuh pembantunya mencelat ke belakang, bukan sekali-kali karena terpental, melainkan karena sengaja pembantunya itu menggunakan tenaga lawan untuk meloncat ke belakang sehingga mematahkan daya pukulan lawan.

Sebaliknya, Ki Walangkoro yang menerima pukulan itu dengan tangkisan yang didasari tenaga kasar, biarpun kelihatannya hanya terhuyung bahkan mengeluarkan ucapan mengejek, sebetulnya di dalam dada raksasa ini terasa sesak dan perutnya mual.

"Tertawalah, Ki Walangkoro. Akan tetapi aku belum kalah!" Adiwijaya menjawab dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan amat cepatnya, kemudian begitu kaki tangannya
bergerak, dia sudah mengirim pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangan disusul tendangan kakinya mengarah lambung.

"Eh-eh ........ !" Ki Walangkoro mendengus, agak bingung menyaksikan lawannya bergerak begitu cepat sehingga tubuh lawannya seolah-olah menjadi empat. Dia menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan kekar itu untuk menangkis, juga untuk balas menyerang dengan cengkeraman dan pukulan. Akan tetapi ia kalah cepat dan ketika ia terlambat menangkis, perutnya terkena tendangan Adiwijaya sehingga terdengar suara "bukkk!" yang keras.

Amat mengherankan ketika terlihat oleh para penonton akibat tendangan ini karena tubuh Adiwijaya sendiri yang terlempar ke belakang! Perut itu amat keras dan kuat, dan
memang tubuh Ki Walangkoro memiliki kekebalan yang mengagumkan.

"Ha-ha-ha! Mampuslah kau, Adiwijaya!" Ki Walangkoro kini menubruk maju seperti seekor gajah menggulingkan diri.

Baru terhimpit tubuh raksasa itu saja sudah akan cukup membuat tubuh Adiwijaya gepeng. Akan tetapi dengan cekatan sekali tubuh Adiwijaya bergulingan dan Ki Walangkoro menubruk tanah sehingga debu mengebul tebal.

"Desss!" Sebelum Ki Walangkoro sempat mengelak ketika ia menerkam tanah tadi, Adiwijaya yang bergulingan sudah cepat menghantam ke arah tubuh raksasa itu sambil
bergulingan. Gerakan ini tidak tersangka-sangka, bahkan Retna Wilis sendiri memandang kagum. Baru sekali ini ia melihat gaya yang sedemikian anehnya dalam pertempuran, mengelak sambil bergulingan akan tetapi dalam bergulung-gulung ini dapat menyerang lawan. Ternyata cara bergulingan itu bukan sembarang mengelak, melainkan bergulingan dengan teratur, seperti langkah-langkah yang diperhitungkan.

Retna Wilis tidak tahu bahwa itulah Aji Trenggilingwesi yang memang menjadi keahlian Adiwijaya atau Raden Sindupati. Seperti pernah diceritakan dahulu, Adiwijaya ini dahulunya seorang perwira Jenggala yang sebetulnya sudah mendapat kepercayaan sang prabu dan menjadi pengawal istana. Ketika ia berani mengganggu seorang puteri, maka ia melarikan diri ke Balidwipa dan di sana dalam perantauannya, dia mempelajari bermacam ilmu kepandaian sehingga ia menjadi seorang sakti. Setelah memiliki kepandaian, dia menghambakan diri kepada Adipati Blambangan yang kemudian hancur oleh serbuan bala tentara gabungan dari Jenggala dan Panalu, yang dipimpin oleh Endang Patibroto dan Pangeran Darmokusumo. Kembali Raden Sindupati menjadi seorang kelana dan setelah berganti nama menjadi Warutama ia berhasil menduduki pangkat patih di Jenggala, menjadi sekutu Suminten dan Pangeran Kukutan. Kini, kembali dia berganti nama Adiwijaya, mukanya telah berubah, jenggotnya yang rapi dan gemuk menutupi luka di dagu, kumisnya pendek, sikapnya berubah sama sekali dan memang Raden Sindupati memiliki kepandaian menyamar. Kalau perlu, dia dapat menyamar sebagai seorang wanita! Kepandaian seperti ini pada waktu itu disebut aji mencalaputera-mancala-puteri.

Pukulan Adiwijaya yang mengenai tengkuk Ki Walangkoro amat hebatnya. Biarpun raksasa ini terkenal kebal dan kuat, namun pukulan yang datangnya tak tersangka-sangka dan disertai tenaga sakti yang kuat, juga mengenai tengkuknya, membuat ia terjungkal dan beberapa lamanya dunia ini seperti diombang-ambingkan ombak besar baginya dan di siang hari itu turun hujan bintang!

Ki Walangkoro bangkit dan menggoyang-goyang kepalanya yang besar, seperti seekor harimau menggoyang badannya yang basah, kemudian matanya menjadi merah saking marahnya ketika ia memandang Adiwijaya yang berdiri tenang di depannya sambil bertolak pinggang. Ia menggereng, kemudian menerjang maju seperti badai mengamuk. Kedua lengannya yang panjang menyambar dan sebelum Adiwijaya sempat mengelak, ia sudah kena ditangkap pinggangnya, diangkat dan dibanting.

"Brukkkk ......!!” Tubuh Adiwijaya dibanting, debu mengebul dan Adiwijaya hanya gelayaran (terhuyung) saja karena ketika dibanting dia telah dapat menggunakan kegesitannya sehingga dapat meloncat lagi ke atas.

"Engkau kuat sekali, Walangkoro!" kata Adiwijaya dan pada saat Walangkoro menubruk lagi, dia sudah melesat ke samping, menyambar lengan raksasa itu dari kanan dan memutar lengan, terus mengangkat dan membanting.

"Bresss ....!!”

Debu mengebul lebih tebal dan tubuh raksasa yang terbanting itu sejenak tak dapat bergerak. Kepala Ki Walangkoro pening dan setengah merangkak, baru ia dapat bangun kembali. Keheranan mulai terbayang di sepasang matanya yang lebar. Tanpa menjawab ia lalu maju memukul Adiwijaya yang hendak memperlihatkan kedigdayaannya kepada Retna Wilis, sengaja mengerahkan tenaga dalam dan menerima pukulan lawan. Dadanya terpukul, tubuhnya bergoyang dan kakinya mundur dua langkah, akan tetapi mulutnya tetap tersenyum. Kemudian ia balas memukul dan sekali ini agaknya Ki Walangkoro juga ingin memamerkan kekebalannya. Ketika kepalan tangan Adiwijaya mengenai dadanya, tubuhnya hanya bergoyang, ia tidak melangkah mundur, akan tetapi napasnya menjadi sesak dan tanpa dapat ditahannya lagi ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan dadanya!

Para anak buah kedua pihak bersorak-sorak menyaksikan pertandingan hebat ini. Dan bagaikan dua ekor ayam jantan, dua orang perkasa ini lalu saling menerjang lagi, lebih dahsyat daripada tadi. Mereka saling pukul, saling tendang, bergumul, piting-memiting, banting-membanting sehingga debu mengebul tinggi.

Diam-diam Retna Wilis yang memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi girang dan
kagum. Dia maklum bahwa keduanya dapat menjadi pembantu-pembantunya yang cakap, maka dia tidak ingin melihat seorang di antara mereka tewas. Ketika melihat betapa makin lama Ki Walangkoro makin terdesak, makin sering menerima pukulan dan sudah terhuyung, ia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, raksasa yang amat berani dan pantang mundur itu tentu akan tewas.

"Cukuplah Paman Adiwijaya!" Ia berseru.

Mendengar ini, Adiwijaya yang sudah hampir menang itu cepat meloncat ke belakang. Ia pun seorang cerdik, maklum bahwa junjungannya yang baru ini ingin menarik raksasa itu sebagai pembantu. Ia pun maklum bahwa dalam menyusun kekuatan, makin banyak pembantu yang digdaya makin baik, maka ia mundur sambil tersenyum dan berkata kepada Ki Walangkoro,

"Walangkoro, andika mengagumkan sekali! Andika seorang yang digdaya!"

Ki Walangkoro berdiri dengan napas terengah-engah dan tubuhnya yang besar dan kokoh seperti batang pohon beringin itu penuh keringat. Ia pun memandang kagum kepada Adiwijaya. Biarpun dia seorang yang kasar, namun dia tidak bodoh dan dia mengenal orang pandai, harus mengaku bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, dia tidak akan kuat bertahan lagi. Adiwijaya terlampau kuat baginya. Pukulan Adiwijaya tidak terlalu keras, akan tetapi mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan menggetarkan isi dadanya. Selain itu, juga Adiwijaya memiliki kecepatan gerakan yang sukar ia lawan sehingga dalam pertandingan itu, dia lebih banyak menerima pukulan daripada memukul.

"Heemmm ........ harus kuakui bahwa andika amat digdaya. Kalau andika yang hendak merampas kedudukan di Wilis, aku suka mengalah dan suka menjadi pembantu andika karena jelas bahwa aku akan kalah kalau pertandingan dilanjutkan. Akan tetapi kalau dia ini ....... hemmm, bagaimana seorang laki-laki perkasa macam kita ini harus menghambakan diri kepada seorang wanita yang masih bocah?"

"Ha-ha, Walangkoro, sungguh percuma saja menganggap dirimu digdaya dan berpengalaman kalau matamu masih begitu buta tidak dapat melihat seorang sakti mandraguna," kata Adiwijaya sambil tertawa.

Melihat kepala gerombolan Wilis itu agaknya belum mau tunduk kepadanya, Retna Wilis lalu melangkah maju dan berkata,

"Paman Walangkoro, kalau dalam segebrakan saja aku dapat merobohkan engkau, apakah engkau masih belum percaya akan kesaktianku?"

"Apa? Andika akan merobohkan aku dalam segebrakan saja? Wahai, puteri muda belia yang suaranya nyaring melebihi halilintar, yang bicaranya tinggi mengatasi puncak Wilis! Kalau betul demikian, aku Ki Walangkoro akan menyembah telapak kaki andika!" kata Ki Walangkoro sambil menyeringai, tidak percaya akan ada orang yang sanggup merobohkannya dalam segebrakan saja, apalagi seorang wanita setengah dewasa seperti Retna Wilis. Retna Wilis tersenyum, akan tetapi senyumnya hanya sedetik, cemerlang seperti menyambarnya kilat di angkasa.

"Kalau begitu, mari kita coba, Paman Walangkoro. Seranglah aku!"

Walangkoro dapat mengerti bahwa kalau tidak memiliki kesaktian yang hebat, tidak nanti dara remaja ini berani menantang seperti itu. Dia tahu bahwa dara ini tentu digdaya sekali dan agaknya dia tidak akan dapat menang, buktinya Adiwijaya yang demikian sakti pun menjadi hambanya. Akan tetapi, kini dia tidak mengharapkan menang, melainkan hendak mempertahankan diri agar tidak sampai roboh dalam segebrakan. Betapapun juga, dia tetap penasaran tidak dapat percaya bahwa dara ini betapapun saktinya, akan mampu merobohkannya dalam segebrakan. Maka ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, memusatkan perhatiannya dan bersiap menjaga diri sekokoh mungkin dengan memasang aji kekebalannya di seluruh tubuh sambil menjaga bagian tubuh yang tak dapat ia tembusi dengan aji kekebalan.

"Jaga serangan!!" ia berseru keras untuk mengguncang ketenangan lawan, tubuhnya yang tinggi besar menerjang ke depan seperti serudukan seekor banteng. Terjangan ini kuat dan cepat, lengan kanan yang panjang dipergunakan untuk mendorong atau memukul ke arah perut Retna Wilis, sedang lengan kiri tetap menjaga depan tubuh sendiri, kedua kaki kokoh kuat menjaga segala kemungkinan. Pendeknya, dalam penyerangan ini, Walangkoro hanya mempergunakan setengah bagian tenaga dan perhatiannya untuk menyerang karena yang setengahnya lagi ia pergunakan untuk menjaga diri agar jangan sampai kena dirobohkan lawan dalam segebrakan.

Retna Wilis memandang lagak lawan dan mulutnya mengembangkan senyum tipis. ia tetap tenang menghadapi terjangan lawannya sambil mengukur jarak. Setelah tubuh lawan yang menerjangnya cukup dekat, hanya satu meter lagi di depannya, dara perkasa ini menggerakkan tangan kirinya seperti orang menampar dari kiri.

Akan tetapi gerakan ini bukanlah tamparan biasa saja karena dara ini telah mengerahkan hawa sakti dari tubuhnya, menyalurkan tenaga mujijat ke dalam tangan yang menampar dengan Aji Pancaroba. Kekuatan yang terkandung dalam aji ini seperti
taufan mengamuk dan memang daya pukulan jarak jauh ini seperti hembusan angin tautan yang dahsyat sekali. Ketika kena disambar angin pukulan Pancaroba, seketika tubuh raksasa itu terpelanting, tak kuasa lagi kedua kakinya menahan tubuhnya dan ia roboh bergulingan!

Terdengar Adiwijaya tertawa bergelak dan diam-diam ia memuji diri sendiri yang berpemandangan awas, sudah percaya dan yakin akan kesaktian luar biasa dari dara ini, tidak seperti Walangkoro yang hendak mengujinya. Diam-diam Adiwijaya selain merasa kagum juga ngeri menyaksikan betapa seorang dara semuda itu telah memiliki
kesaktian sehebat itu!

Akan tetapi Walangkoro adalah seorang yang bodoh dan kasar. Dia merasa terlalu aneh dapat dirobohkan benar-benar oleh gadis itu dalam segebrakan saja dan hal ini membuatnya penasaran sekali. ia meloncat bangun dengan mata merah saking marah dan penasaran.

"Wahai puteri yang sakti mandraguna! Andika menggunakan aji setan!"

"Hemm, bagaimanakah kehendakmu, Paman Walangkoro?"

"Coba andika merobohkan aku dengan tenaga, dengan tebalnya kulit dan kerasnya tulang!"

"Andika keras kepala! Majulah!" Retna Wilis menantang.

Walangkoro mendengus dan meloncat ke depan, kini ia menggunakan kedua lengannya yang sebesar kaki manusia biasa itu untuk memukul sambil mengerahkan tenaganya. Retna Wilis menyambut dengan tenang, mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menangkis kedua pukulan tangan lawan itu, tangannya yang miring menebas ke arah kedua lengan lawan yang besar dan kuat.

"Wuut-wuut ........ krek-krekkk!"

Walangkoro menggereng kesakitan dan terhuyung ke belakang, kedua lengannya tergantung di kanan kiri dengan tulang patahl ia terbelalak, tidak merintih, memandang
kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan, dan kekaguman yang mendalam. Kemudian, kedua kakinya bertekuk lutut dan ia menggerakkan kedua lengannya yang sudah patah tulangnya, berusaha menyembah kaku karena lengannya seperti lumpuh, mulutnya berkata,

"Hamba Walangkoro menghaturkan sembah kepada Gusti Puteri Retna Wilis yang mulai saat ini menjadi junjungan dan sesembahan hamba."

Retna Wilis tersenyum girang melihat Walangkoro yang berlutut menyembahnya, di belakang raksasa ini semua anak buah gerombolan Wilis juga berlutut dan menyembah
dengan muka membayangkan rasa takut.

"Baiklah, Paman Walangkoro. Aku menerima engkau dan semua anak buahmu menjadi pasukanku. Engkau membantu Paman Adiwijaya, adapun para Paman Wilis ketiganya menjadi pembantu-pembantumu. Sekarang mari kita naik ke puncak." Berangkatlah mereka semua mendaki puncak Wilis setelah Walangkoro dibantu oleh Adiwijaya membalut kedua lengannya yang patah tulangnya dan oleh Adiwijaya diberi obat daun-daun yang mempunyai khasiat mempercepat penyambungan tulang patah.

Mulai hari itu, Retna Wilis menjadi pemimpin pasukan yang jumlahnya hampir dua ratus orang terdiri dari bekas-bekas anak buah pasukan Jenggala dan anak buah Padepokan Wilis yang ditambah anak buah gerombolan Wilis. Akan tetapi Retna Wilis tidak mempergunakan nama padepokan, apalagi gerombolan, dia kini mendirikan sebuah "kerajaan" kecil, yang disebut Kerajaan Wilis. Adapun Retna Wilis sendiri menjadi ratunya yang oleh para anak buahnya disebut Gusti Puteri Retna Wilis. Mulailah dara remaja yang amat luar biasa ini menghimpun kekuatan dan mulailah ia memimpin sendiri anak buahnya untuk menaklukkan seluruh daerah yang termasuk wilayah. Banyak sekali gerombolan perampok ia taklukkan dan dijadikan anak buahnya, bahkan dusun-dusun di kaki Wilis mulai ia serbu, yang menentang dibunuh, yang takluk dijadikan anak buahnya sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, "kerajaan" Wilis memiliki pasukan yang besar jumlahnya, ribuan orang, dan di lereng-lereng Wilis kini dibangun dusun-dusun baru yang dijadikan tempat tinggal para anak buahnya beserta keluarga mereka.

Retna Wilis sendiri hanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Tentu saja dalam hal memimpin orang sedemikian banyaknya sebagai seorang ratu, ia tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Tidaklah mudah memimpin orang-orang yang terdiri dari pelbagai macam golongan itu, bahkan amat sukar menundukkan orang-orang yang tadinya adalah gerombolan perampok yang ganas. Akan tetapi, dengan bantuan Adiwijaya yang berpengalaman sebagai Patih Jenggala, dan Walangkoro yang sudah biasa memimpin gerombolan perampok, Kerajaan Wilis ini dapat berjalan dengan maju pesat. Bukan saja dapat mempergunakan tenaga para rakyatnya, juga dapat mendatangkan kesejahteraan.

Sudah terlalu lama rakyat tertindas oleh pembesar-pembesar lalim, apalagi ketika Jenggala mengalami kesuraman, dan banyak terjadi perang selama beberapa tahun ini. Kini mereka menyaksikan kemajuan Kerajaan Wilis, timbul harapan mereka untuk dapat hidup baik dan makin banyaklah rakyat dari daerah-daerah yang agak jauh berdatangan untuk mencari perlindungan di bawah pimpinan gusti puteri yang dikabarkan sebagai penjelmaan seorang Dewi yang turun dari kahyangan dan yang bertugas mendatangkan kebahagian bagi kehidupan mereka yang tertindas!

Dalam waktu beberapa bulan saja nama Kerajaan Wilis yang dipimpin oleh puteri sakti mandraguna itu menjadl terkenal sampai jauh dari Wilis. Daerah yang jauh di sekeliling Wilis menjadi geger dan gempar karena munculnya puteri jelita dengan pasukannya yang tidak berapa besar itu memang hebat sekali, setiap kali keluar pasti menaklukkan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari kabar tentang kesaktian yang luar biasa dari Puteri Retna Wilis ditambahi bumbu-bumbu yang berlebihan mengagetkan semua orang yang mendengarnya.

==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 099 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment