Ads

Wednesday, January 23, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 002

<<== Kembali <<==

"Bibirmu yang membuat aku tidak bisa tidur sendirian." lapun meraih lagi isterinya, mencium bibir yang selalu merah tanpa menginang (makan sirih) itu, merah membasah, lembut dan hangat penuh madu asmara. setelah puas berciuman, Endang Patibroto akhirnya merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan suaminya, membenarkan rambutnya yang awut-awutan, meringkaskan pakaiannya. Melihat isterinya berkemas dan mengenakan celana hitam sebatas lutut, mengaitkan kain yang berubah menjadi dandanan seorang pendekar wanita, kembali Pangeran Panjirawit gelisah.

"Engkau tidak membawa senjata, Endang?" Ia bergidik kalau teringat betapa dahulu, sepuluh tahun yang lalu, isterinya ini dengan keris pusaka Ki Brojol Luwuk (pusaka Mataram) merupakan seorang wanita perkasa yang menggiriskan dan menggegerkan seluruh Kerajaan Panjalu dan Jenggala.

Endang tersenyum.
"Menghadapi penjahat pengecut perlu apa bersenjata? Tusuk konde hamba inipun belum tentu perlu hamba pergunakan. Nah, suami pujaan hati, hamba pergi, sampai nanti!" Begitu selesai kata-kata ini, tubuh Endang Patibroto berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Panjirawit.

Pangeran ini termenung, tidak heran menyaksikan kesaktian isterinya yang ia tahu memiliki ilmu Aji Bayu Tantra yang memungkinkan isterinya berkelebat cepat seperti terbang dan lari seperti angin cepatnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, hatinya merasa kosong setelah isterinya tidak berada di sampingnya. Ia lalu bangkit dan memasuki kamar tidurnya. Akan tetapi di pintu ia terhenti karena melihat bayangan Suminten menyelinap.

"Heiii, kau lagi, Minten? Tidak dipanggil mengapa kau berada di sini? Tidak mengaso di belakang, di pondok abdi dalem?"

Gadis yang berdada montok itu maju, berlangkah jongkok sampai dekat kaki Pangeran Panjirawit, menyembah dan sedikit menyentuh kaki sang pangeran, kemudian menengadah memandang pangeran itu, mata yang jeli bersinar-sinar penuh harapan, hidung yang mancung berkembang-kempis, mulutnya setengah terbuka sehingga tampak di balik sepasang bibir yang basah itu ujung deretan gigi yang putih dalam mulut yang merah. Lalu terdengar mulut yang menggairahkan itu berbisik,

"Ampunkan hamba, gusti……… hamba kira …… barangkali …… paduka masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba kerjakan ……”

Pangeran Panjirawit mengerutkan kening. Aneh sekali, pada mata dan mulut gadis ini terdapat sesuatu yang mengingatkan ia akan isterinya, akan pandang mata dan mulut isterinya sewaktu ia cumbu! Aiihh, tidak! Ia takkan membiarkan dirinya tertarik oleh lain wanita. Tiada wanita di dunia ini yang dapat menandingi isterinya!

"Tidak, Minten. Kau pergilah ke belakang, aku mau tidur." Pangeran Itu memasuki kamarnya tanpa menutup daun pintu karena ia ingin melihat apabila isterinya pulang.

Perlahan Suminten bangkit berdiri, sejenak ia berdiri di depan pintu kamar, kedua tangan dengan jari-jari kecil itu dikepal-kepal, glginya yang kecil-kecil putih menggigit bibir bawah, matanya layu dan air mata mengalir turun di kedua pipinya. Ia sampal tak sedap makan tak nyenyak tidur, siang malam memikirkan sang pangeran, mengharap-harap dan diusahakannya sedapat mungkin menarik perhatiannya. Namun sia-sia, pangeran itu sama sekali tidak tertarik padanya, melihat dengan pandang mata seperti kebanyakan pria kalau memandangnyapun tidak pernah. Bukankah wajar dan sudah selayaknya kalau seorang pangeran mengambil dara abdi-dalem menjadi selir?
Apakah yang dipunyai isterl pangeran yang tidak ada pada dirinya? Ia penasaran dan menderita karena tergila-gila dan jatuh cinta kepada sang pangeran. Begitu gagah, begitu tampan, begitu halus, begitu dekat namun…… begitu jauh tak terjangkau tangan dan hati. Ini semua gara-gara isteri pangeran. Gara-gara Endang Patibroto sehingga suaminya tidak wajar seperti para pangeran lain. Wanita iblis itu, dengan ilmu iblisnya. Suminten bergidik ngeri, akan tetapl matanya menyinarkan cahaya.

Desas-desus itu memang benar. Ia telah menyaksikan sendiri. Dengan ilmu iblisnya isteri pangeran telah mengguna-gunai Si Petak tadi! Bergeraklah kedua kakinya perlahan menuju ke belakang, di mana tersedia kamar-kamar dalam pondok khusus untuk para abdi.

**** 002 ****
==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 003 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment