Ads

Wednesday, January 23, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 003

<<== Kembali <<==

Bagaikan iblis sendiri, tubuh Endang Patibroto melesat naik ke atas atap rumah dan mulailah ia dengan petualangannya, dengan perjalanan malamnya melakukan penyelldikan. Begitu kedua kakinya menginjak genteng, begitu angin malam bermain dengan rambutnya, timbul kegairahannya, teringat ia akan hidupnya, naluri seorang pendekar yang waspada akan setiap gerak dan suara. Ketajaman telinganya bertambah, pandahg matanya yang selama sepuluh tahun ini terbenam dalam kemesraan, dalam lautan asmara yang tak kunjung padam bersama suaminya kini bersinar-sinar tajam, indera ke enam yang ada pada diri setiap orang pendekar yang sudah matang ilmunya, kini hidup dan menjadi sandaran baginya untuk melakukan penyelidikan.

Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kadang-kadang di atas genteng berlompatan, kadang-kadang di bawah berlarian. Malam ini amat sunyi. Tak tampak seorangpun penduduk kota raja keluar dari pintu. Hanya orang-orang yang mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk judi, dan sebangsa maling saja yang berani keluar pintu di malam Respati itu. Mereka ini tentu saja tidak takut dicaplok iblis karena sudah mabuk. Namun Endang Patibroto tidak menaruh perhatian kepada mereka ini. Ia bahkan menujukan perhatiannya ke atas! Ke arah pohon-pohon besar, ke arah atap-atap gedung di mana tinggal para ponggawa tinggi, para pangeran dan tumenggung, para panglima dan perwira.

Kalau ia berloncatan dari genteng ke genteng, jelas tercium bau kemenyan yang memenuhi udara. Suasana malam itu tentu akan mengecilkan hati seorang pendekar, namun Endang sama sekali tidak merasa gentar. Kepercayaan akan diri sendiri timbul kembali pada saat itu. Di dalam pelukan dan di bawah cumbu rayu dan belaian Pangeran Panjirawit, la merasa kehilangan kepercayaan ini, tidak berdaya dan lemah, seakan-akan tidak kuasa akan tubuhnya sendiri, tidak kuasa akan hatinya sendiri. Seakan-akan tubuh dan hatinya sudah menjadi sebagian milik suaminya dan ia hanya menurut apa yang dikehendaki suaminya karena kebahagiaanlah yang terasa olehnya dalam pelayanan terhadap suaminya ini. Ia bahagia melihat suaminya bahagia karena dia. la puas melihat suaminya puas karena dia..

Tapi sekarang ia merasa seperti seekor burung yang bebas. Dengan seluruh dlrinya seorang. la menentang segala bahaya. Tiba-tiba, ketika ia meloncat ke atas genteng tinggi gedung Pangeran Panjirawit, ia berhenti bergerak. Telinganya mendengar sesuatu. Pekik mengerikan!.. Jelas sekali dari atas genteng itu. Datang dari rumah gedung Demang Kanaroga, demang yang ahli dalam ilmu perang yang selalu menjadi tangan kanan setiap orang senopati Jenggala dalam perang. Secepat kilat tubuhnya melesat dan berlarilah ia ke arah gedung itu, lalu melayang naik ke atas atap gedung. Ia mencari-cari lalu mengintai ke dalam kamar ki demang. Terlambat! Demang Kanaroga tampak terkapar di dalam kamarnya, dirubung dan ditangisi anak isterinya. Mati dan darah mengalir dari kedua lengan, dan terutama banyak sekali dari dadanya. Tiada gunanya masuk, ia takkan mampu berbuat sesuatu.

Endang Patibroto meloncat ke bagian yang paling tinggi dari atap itu. Dan tampaklah olehnya kini dua ekor benda terbang berputaran di atas gedung itu. Burungkah? Burung hitam? Bukan! Sayapnya tidak mengeluarkan bunyi dan bentuk tubuhnya tidak seperti burung, pendek, tapi sayapnya amat lebar. Dua ekor binatang Itu mencicit. Kalong (kelelawar)! Tak salah lagi, lnilah yang ia cari-cari, pikir Endang Patibroto. Jantungnya berdebar tegang dan gembira. Mampuslah kau sekarang, pengecut berhati keji! Peliharaanmu yang akan mengantarku ke sarangmu. Awas kau, ini Endang Patibroto akan datang untuk membekuk batang lehermu!

Ketika dua ekor kelelawar itu terbang ke barat, Endang Patibrotopun segera melompat turun dan berlari cepat ke barat, mengikuti dua ekor kelelawar itu dari bawah. Ke manakah ia akan dibawa oleh dua ekor binatang itu? Ke luar kota? Ke manapun juga, akan kuikuti kalian!

Heee! Mereka menuju ke barat terus?. Eh, membelok ke selatan kini. Terus ke selatan. Endang Patibroto masih berdebar tegang dan terus berlari. Kini ia berlari melalui depan istana suaminya! Arah terbang dua ekor kelelawar menuju ke selatan itu mengharuskan ia mengambi jalan ini. Aduh, betapa kalau suaminya mengetahui! Ah, tentu suaminya kini sedang tidur seorang diri di atas pembaringan bersih lunak yang menjadi saksi tunggal cinta kasih di antara mereka. Mendadak saja timbul perasaan mesra yang membuat Endang Patibroto meloncat naik ke atas atap rumahnya sendiri.
Dua ekor kelelawar masih terbang di atas. Dan pada saat kedua kakinya menglnjak genteng rumahnya itulah ia menahan pekik yang hampir keluar dari mulutnya. Di atas genteng itu terbang berputaran pula seekor kelelawar yang lain! Lebih besar daripada yang dua itu. Dan ia mendengar suara mengaduh di bawah. Suara suaminya!!

Serasa berhenti detak jantung Endang Patibroto. Ia tidak memperdulikan lagi kepada kalong itu dan langsung ia melayang turun, memasuki taman dan melompat ke dalam, terus berkelebat masuk melalui pintu kamar tidur mereka yang tidak tertutup.

"Kakanda……..!!!”

Suaminya tidak tidur, melainkan duduk dengan mata terbelalak. Lengan kirinya berdarah di dekat siku dan tangan kanannya berusaha menghentikan keluarnya darah dari lengan yang tidak luka itu. Dan pada saat ia meloncat masuk, suaminya mengaduh lagi dan terbelalak memandang lengan kanannya yang sekarang juga berdarah! Dari atas terdengar suara burung hantu terbang lewat,

"Huuu uukkkk huukk huuukkk !" Seakan-akan burung hantu Itu mentertawakan Pangeran Panjirawit.

"Endang ……. lekas……. ! Ini lenganku ini ….., bagaimana ……..??"

"Tenanglah, suamiku! Tenang …… hemm, bedebah! Keparat ………!"

Panjirawit bukanlah seorang penakut, apalagi ada isterinya di situ. Mendengar maki-makian keluar dari mulut isterinya yang biasanya halus ramah itu, ia memandang, bertanya,

"Kau memakl siapa, yayi?"

"Tenanglah, suamiku……. , tenanglah......... " kata Endang Patibroto dengan suara bercampur sedu-sedan. Terlambat sedikit saja, ia akan menemukan suaminya dalam kamar seperti halnya Demang Kanaroga tadi, terkapar mati! Cepat ia menubruk suaminya, bersila di depan suaminya, menaruh kedua telapak tangan ke depan dada, menempel ulu hati suaminya.

Melihat keadaan isterinya yang demikian sungguh-sungguh, teringatlah lagi Pangeran Panjirawit akan keadaannya. Teringat lagi bahwa kali ini dialah yang hendak dijadikan korban. Mula-mula kedua lengan, kemudian ulu hati. Tahulah ia bahwa isterinya mempergunakan kesaktiannya untuk melindunginya. Dari kedua telapak tangan yang halus itu, yang ia ingat benar kalau membelai-belainya, kini keluar hawa panas yang menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuhnya, ke arah kedua lengannya dan darah tidak mengalir lagi dari kedua lengannya.

Tiba-tiba Endang Patibroto melompat dan menyambar bokor perak, tempolong perak dan semua benda terbuat daripada perak yang berada di kamar itu. Pangeran dan dia memang lebih suka akan perak daripada emas. Kedua tangannya bergerak cepat, secepat tubuhnya ketika melesat dan bergerak mengumpulkan benda-benda tadi. Tidak sampai satu menit lamanya, semua benda perak itu telah ia robek, kait-kaitkan dan kini la kembali kepada suaminya, menggunakan robekan-robekan perak itu menutupi tubuh suaminya.

"Tutup baik-baik, kakanda. Bagian-bagian yang lemah, kakanda tahu, dada, punggung, perut, pusar, kepala. Kaki tangan tidak mengapa. Tutup bagian-bagian yang lemah. Jangan takut, jangan khawatir, kakanda tidak akan mengapa, aku akan menghancurkan bedebah laknat itu! Berani dia mengganggu suamiku!" Suara ini bercampur isak dan tubuh Endang Patibroto sudah melesat lenyap lagi.

"Endang…. !" Pangeran Panjirawit memanggil, akan tetapi ia menahan kecemasannya. Ia harus percaya kepada isterinya. Endang tidak akan kalah. Cepat ia melakukan pesan isterinya, menutupi bagian-bagian tubuh yang lemah yang akan membuatnya tewas dengan sekali tusuk. Kaki tangan biarlah, tusuklah kalau mau tusuk, pikirnya penuh geram.
Endang Patibroto sudah melompat naik, tangannya menyambar genteng, sekali remas ia mendapatkan sepotong genteng. Kelelawar yang dua ekor tak tampak lagi, akan tetapi yang seekor dan paling besar masih beterbangan di atas gedungnya, berputaran, seakan-akan menanti keluarnya pekik maut yang diharapkan keluar dari dalam gedung. Dengan menahan geram dan mengukur tenaga karena ia tIdak ingin membunuh kelelawar Itu, la mengayun tangan menyambit.

Kelelawar besar itu mengeluarkan bunyi mencicit keras, terbangnya terhuyung dan setelah mencicit-cicit bingung akhirnya ia terbang ke arah selatan. Inilah yang dikehendaki Endang Patibroto. ia berhasli mengusir kelelawar itu agar terbang pulang sebelum menyelesalkan tugas. Terbang pulang dan membawa dia ke tempat majikannyal Dengan jantung berdebar tegang dan girang Endang Patibroto melesat cepat. Ia tidak mau tertinggal oleh kelelawar itu.

Kelelawar itu terbang terus ke selatan melalui pintu gerbang selatan. Keluar kota raja. Sudah ia duga akan hal inl. Siapapun dia yang melakukan semua pembunuhan keji dan pengecut ini, tentu tidak berani tinggal di kota raja, di mana terdapat banyak perwira-perwira berilmu tinggi dan di mana terdapat dia. Ia meloncat melalul dinding yang mengelilingi kota raja, terus berlari cepat. Untung bulan yang tinggal sepotong masih terang. Tidak ada awan malam itu. Langit tampak suram muram, namun bayangan kecil hitam Itu tampak jelas.

Alangkah besarnya kelelawar Itu yang terbang rendah. Dari ujung ke ujung sayap tentu lebih daripada sedepa. Binatang Itu terbang ke atas sebuah hutan. Celaka! Hutan yang banyak pohonnya, kalaulah di bawah pohon itu ia akan kehilangan bayangan Itu. Terpaksa Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas pohon, kemudian dengan cekatan la berloncatan dari pohon ke pohon. Betapapun juga, tak salah perhitungannya, tentu penjahat itu berdiam dan bersembunyi di dalam hutan ini.

Ia naik ke atas pohon yang tinggi dan tampaklah kelelawar itu yang menukik turun ke atas atap sebuah pondok kecil di tengah hutan. Pondok itu! Tentu di situ tempat bersembunyi si bedebah. Dengan hati-hati Endang Patibroto melompat ke atas pohon yang berdekatan dengan pondok, mengintai.

Kelelawar itu menggelepar-gelepar di atas atap lalu menerobos masuk melalui pintu setelah dengan berat badannya menabrak pintu terbuka sedikit. Terdengar suara orang mengutuk dari dalam. Endang Patibroto meloncat turun, kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun seperti seekor kucing melompat. Berindap-indap namun cepat ia mendekati pondok, mengintai dari celah daun pintu yang terbuka sedikit. Giginya berkerotan ketika ia melihat ke dalam pondok! Kakek tinggi kurus itu duduk bersila, memaki-maki kelelawar yang hinggap di bawah atap, di atas sebuah arca Bathara Kala.
"Kelelawar bodoh! Kalong yang tiada. gunanya! Belum selesai tugas sudah pulang! Apa hendak melapor akan gagalnya usahaku? Bedebah, kubakar dagingmu besok untuk santapan!" Kakek itu mengomel panjang pendek. Sebuah boneka berada di tangan kirinya, sebatang keris kecil di tangan kanan. "Setan alas! Belum mau tunduk juga engkau, Pangeran Panjirawit? Tubuhmu kebal, ya? Keparat!" Ia menggunakan kerisnya menusuk-nusuki tubuh boneka ltu, dadanya, lambungnya, pusarnya, punggungnya, kemudian lehernya dan kepalanya. Akan tetapi betapapun kuat ia menusuk, kerisnya tidak mampu menembusl tanah lempung yang tidak keras itu, seolah-olah tubuh boneka lempung itu berubah menjadi baja!

Endang Patibroto bergidik. Kalau terlambat sedikit saja ia pulang tadi, tentu suaminya sudah terkapar mati dengan tubuh mandi darah. Ia melihat kaki kanan dan lengan kiri boneka itu berlumur darah. Suaminya tentu menderita, akan tetapi alangkah gagah suaminya. Biarpun kaki dan tangan berdarah, namun tetap dapat menjaga tubuh di bagian berbahaya. Dapat ia bayangkan betapa suaminya menderita dan cemas.
"Setan keparat kau Panjirawit. Heh-heh-hih-hi-hik! Hanya kaki tanganmu saja yang tidak kebal, ya? Hendak kulihat bagaimana kalau darahmu habis keluar dari kaki tanganmu, akan kuhancur leburkan kaki tanganmu!" Tangan yang hanya tulang terbungkus kulit itu kini menghujamkan keras ke arah kaki kira boneka Panjirawit. Akan tetapi keris itu terhenti di tengah gerakan karena tangannya tertahan oleh sebuah tangan yang berkulit putih halus. Hidungnya mencium bau sedap harum dan tiba-tiba ada tangan putih halus lain lagi yang menyambar dan merampas boneka itu.

Wiku Kalawisesa terbelalak kaget dan mengangkat muka. Matanya yang tersembunyi dalam-dalam di rongga mata, memandang seolah-olah ia tidak percaya akan apa yang tampak olehnya. Seorang wanita cantik jelita sudah berdiri di depannya, boneka itu telah berada di tangan si wanita yang dengan tenang mencabuti beberapa helai rambut hitam yang menempel di kepala patung. Rambut suaminya. la memasukkan gumpalan rambut itu ke balik kemben, lalu menghancurkan patung dengan remasan tangannya sehingga berubah menjadi sekepal tanah lempung!

"Manusia berwatak iblis, tua bangka yang tidak mencari jalan terang, calon penderita di dasar neraka jahanam! Siapakah engkau wahai kakek yang lebih rendah daripada binatang, lebih keji daripada iblis?"

Biarpun suara Endang Patibroto halus, merdu, akan tetapi bagi kakek itu seperti menyambarnya guntur di siang hari!. Tahulah ia kini mengapa usahanya membunuh Pangeran Panjirawit gagal. Kiranya ada wanita sakti ini dan biarpun selama hidupnya ia belum pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto, namun ia dapat menduga dengan siapa ia berhadapan. Lalu meloncat bangun, gerakannya cepat dan tangkas tidak sesuai dengan tubuhnya yang lapuk.

"Engkaukah yang bernama Endang Patlbroto?" Gumamnya, matanya mendeilk mukanya terasa panas membakar karena memang wanita inilah yang dimusuhinya. Semua perbuatannya membunuhi para ponggawa itupun didasari rasa benci dan dendam kepada wanita ini.
Endang Patibroto tersenyum, senyum yang dingin yang sudah sepuluh tahun tak pernah membayang di bibirnya. Biasanya hanya untuk suaminya, senyum mesra dan hangat. Hampir ia lupa bagaimana ia tersenyum di waktu ia masih gadis dan menghadapi lawan yang sakti dan jahat. Kini otomatis senyum itu muncul di bibirnya. senyum yang membuat seorang seperti Wiku Kalawisesa saja sampai bergidik.

"Tidak salah seujung rambutpun dugaanmu, keparat tua bangka. Aku bukan pengecut macam engkau yang melempar batu sembunyi tangan melakukan pembunuhan-pembunuhan keji sambil bersembunyi. Akulah Endang Patibroto, isteri dari Pangeran Panjirawit yang kau usahakan kematiannya. Kau …… Kau….. si laknat pengotor jagad! Kau telah berani lancang tangan, menyerang suamiku secara keji. Hayo mengakulah siapa namamu, sebelum kujuwing-juwing (cabik-cabik) kulitmu, sebelum kupatahkan semua tulangmu, sebelum kuhancurkan kepalamu!" Kini senyum dingin meninggalkan wajah ayu itu, berganti dengan warna merah membara, sepasang mata itu berkilat seperti mengeluarkan cahaya terang, lubang hidungnya mendengus seolah-olah keluar apinya. Teringat akan suaminya, kemarahan Endang Patibroto memuncak dan beginilah Endang Patibroto di kala gadisnya, di kala ia menjadi orang yang paling ditakuti seluruh kerajaan, di kala keris pusaka Ki Brojol Luwuk masih berada di tangannya. Kalau sudah begini, dia seolah-olah menjadi malaikat maut sendiri!

Wiku Kalawisesa bukan seorang yang lemah. Tidak, bahkan sebaliknya. Dia adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo yang dulu terkenal sakti mandraguna. Dia seorang tokoh dari India yang membawa datang banyak aji yang aneh-aneh, terutama sekali ilmu hitamnya. Maka ia lalu menggunakan, kekuatan batinnya untuk menekan rasa ngeri dan gentarnya. Biarpun ia bongkok, namun karena tubuhnya jangkung sekali, ia masih lebih tinggi daripada Endang Patibroto dan ketinggiannya ini ia pergunakan untuk memaksa hati memandang rendah lawan. Satu-satunya syarat bagi keampuhan ilmu hitam adalah perasaan lebih tinggl dan lebih kuat daripada lawan, jauh daripada rasa gentar.

"Heh-heh-hi-hi-hik! Babo-babo, Endang Pitibroto! Sumbarmu melebihi letusan Gunung Bromo! Kesombonganmu seolah-olah engkau dapat mencapai puncak Mahameru dan menyelam sampai di dasar Laut Kidul! Jangan kau mengira bahwa aku adalah sebangsa coro yang dapat kau perbuat sesukamu begitu saja, inilah lawanmu, Endang Patibroto, inilah Sang Wiku Kalawisesa yang sudah bertahun-tahun menanti saat ini untuk menyambut nyawamu dan membalas kematian adik seperguruanku Cekel Aksomolo. Hah-hah-hi-hikl"
Tangan kiri kakek itu bergerak menyambar sebatang tongkat yang tadi bersandar di dinding. Tongkat ini berwarna hitam, sebesar ibu jari, bengkak-bengkok dan butut, akan tetapi dari tongkat ini keluar pengaruh yang mengerikan. Tongkat bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat pusaka yang sudah ia rapal, yang sudah bertahun-tahun menerima hikmat sinar matahari dan bulan purnama, sudah bertahun-tahun ia menghisap pengaruh sakti dan hawa mujijat dari tempat-tempat angker dan kuburan-kuburan keramat!

Endang Patibroto menggangguk-angguk. Ia berdiri tegak, bertolak pinggang, sinar matanya tajam menyelidik, menyapu keadaan dalam pondok dan tahulah ia bahwa pendeta ini adalah seorang pemuja Bathara Kala. Maka ia berhati-hati, maklum bahwa pemuja Bathara Kala biasanya memiliki ilmu-ilmu yang mujijat dan sakti mandraguna. Gurunya dahulu pernah berpesan kepadanya agar hati-hati kalau bertemu dengan tokoh pemuja Bathara Kala.

"Arca Bathara Kala dapat mengeluarkan mujijat, muridku." demikian kata gurunya, "kalau dipuja secara setia berpuluh tahun, dapat kemasukan roh dan kesaktian Bathara Kala yang haus akan darah manusia, lapar akan daging manusia. Hancurkan lebih dahulu kesaktian arca ini, baru penyembahnya kehilangan sinar kesaktian yang menjadi dasarnya."

Teringat akan nasehat gurunya ini, besar hati Endang Patibroto. Ia tersenyum mengejek ketika menjawab.

"Aehhh, kiranya engkau ini kakak seperguruan Cekel Aksomolo si Durna itu? Dan namamu Wiku Kalawisesa? Heh, wiku sesat ! Cekel Aksomolo adalah aku yang membunuhnya! Kalau engkau hendak membalaskan kematiannya, aku Endang Patibroto siap untuk menghadapi setiap saat. Kenapa engkau berlaku begini pengecut, menyerang suamiku? Dan kenapa pula engkau membunuh-bunuhi ponggawa Panjalu dan Jenggala??"

Wiku Kalawisesa amatlah cerdik dan banyak siasatnya. Karena cerdiknya, la amat berhati-hati dan harus mengakui bahwa menghadapi wanita ini, belum tentu ia akan menang. Kalau ia menang maka itulah yang dikehendakinya dan tidak akan ada urusan lagi. Akan tetapi kalau ia kalah dan tewas? Ia tidak takut mati, akan tetapi matinya akan mengandung mati penasaran karena tujuannya tidak tercapai. Dan mati penasaran akan membuat rohnya gentayangan tidak menentu. Karena itu ia harus mengatur siasat sebelumnya. Baik ia akan kalah atau menang, wanita musuh besarnya ini harus dlhancurkannya.

"Hoah-ha-ha-hah, bagaimana seorang perempuan muda yang bodoh macam engkau ini hendak menjagoi? Urusan yang terjadi di depan matamu saja engkau maslh tidak mengerti, dan kau mengaku dirimu pintar?"

"Wiku sombong, aku memang bukan orang pintar, akan tetapi setidaknya bukan manusia pengecut sebodoh engkau sehingga berani kau mengganggu aku! Melihat adanya para korban yang terdiri dari ponggawa-ponggawa pilihan, tentu engkau bersekongkol dengan orang yang ingin melihat Kerajaan Jenggala dan Panjalu menjadi lemah. Nah, kau katakan siapa orangnya yang bersekongkol denganmu!"

Diam-diam kakek ini terkejut. Kiranya cerdik pula wanita ini, dapat menduga dengan tepat. la tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau kau sakti mandraguna, awas paningal, tahu akan segala rahasia alam, melihat akan segala yang tergelar di jagad raya, tentu engkau tak perlu bertanya-tanya lagi."

"AKAN TETAPI, kuberitahu juga tidak mengapa agar kau tidak mati dalam penasaran. Aku tahu bahwa engkau akan mati di tanganku, Endang Patibroto, maka kau dengarlah dulu baik-baik dan jangan kaget akan hal-hal yang tentu tidak akan kau sangka-sangka. Heh-heh-heh! Memang tanpa tedeng aling-aling aku mengaku bahwa para ponggawa itu kubunuh atas perintah orang. Bukan sembarang orang, melainkan calon maharaja besar yang akan menguasai seluruh Panjalu dan Jenggala dijadikan satu! Dan untuk dapat menguasai kedua kerajaan ini, perlu sekali para penentangnya dan para penghalangnya disingkirkan lebih dulu untuk persiapan."

"Hemmm, sudah kuduga. Kemudian kau dan sekutumu menghamburkan desas-desus bahwa akulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu, bukan?"

"Heh-heh-hl-hi-hih! Itu akalku, Endang Patibroto. Akalku untuk memancing kau keluar mencariku. Akan tetapi kau ternyata penakut, tidak berani keluar sehingga terpaksa aku menyerang suamimu sebagai pancingan dan benar saja, kau datang menyerahkan nyawamu, heh-hehheh!"

"Wiku jahanam, katakan siapa sekongkolmu itu!"

"Itu rahasia, heh-heh-heh, kau carilah sendIri. Tapi kau akan matl di sini, agar jangan menjadi setan penasaran, baik kuberitahu. Calon maharaja itu adalah Pangeran Darmokusumo di Panjalu."

"Apa..........??" Endang Patibroto benar-benar kaget sekali karena tak pernah menduga. Pangeran Darmokusumo putera sang prabu di Panjalu? Ah, tidak mungkin! Pangeran Darmokusumo selain putera Sang Prabu Panjalu, juga putera mantu Sang Prabu Jenggala! Menikah dengan Puteri Mayagaluh, adik kandung Pangeran Panjirawit, suaminya! Mana mungkin ini? "Engkau dukun lepus, engkau tukang tenung hina-dina, engkau pembohong rendah! Siapa percaya omonganmu?"

"Heh-heh-heh, bocah kemarin sore semacam engkau ini yang begini tolol mana percaya? Mana bisa melihat kenyataan? Pangeran Darmokusumo tidak suka melihat kerajaan menjadi dua, beliau hendak menguasai seluruh kerajaan, dijadikan satu, pulih kembali seperti jaman Kahuripan, jaman Mataram."

"Tak mungkin ia mau membunuh-bunuhi ponggawa Jenggala, apalagi ponggawa Panjalu sendirI. Kau mengadu domba.°

"Sesukamulah, Endang Patibroto. Engkau memang tolol, tidak tahu isi hati orang. Ponggawa-ponggawa Jenggala yang penting harus disingkirkan karena kelak menjadi penghalang, termasuk engkau sendiri yang terutama. Karena inilah beliau memilih aku yang memang ingin membunuhmu. Selama kau masih hidup, cita-citaku takkan tercapai. Maka rencana cerdik beliaulah yang mendesas-desuskan keadaanmu, mengatakan bahwa engkau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, karena engkau murid Dibyo Mamangkoro si manusia iblis! Ha-ha-ha, rencana yang bagus sekali dan kelak kalau beliau menjadi maharaja, aku Sang Wiku Kalawisesa akan diangkat menjadi sesepuh kerajaan."

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan nafsu amarah sudah memenuhi hati Endang Patibroto, matanya berkilat-kilat dan ia mulai ragu-ragu akan kebersihan Pangeran Darmokusumo. Memang semenjak kerajaan dibagi dua, selalu timbul ketegangan di antara kedua kerajaan bersaudara, bahkan dahulu sampai terjadi permusuhan, peperangan. Bukan tak bisa jadi kalau Pangeran Darmokusumo bercita-cita seperti itu, mempersatukan dua kerajaan, kalau perlu dengan kekerasan.

"Jangan coba menipu aku, wiku keparat. Pangeran Darmokusumo tidak mungkin suka membunuhi ponggawa-ponggawa Panjalu sendiri..........!”

"Uuuuh, itulah kebodohanmu! Ponggawa-ponggawa yang terbunuh itu, seperti Tumenggung Diroprono, Senopati Surabala putera Patih Suroyudo, termasuk mereka yang menentang cita-cita Pangeran Darmokusumo, maka harus mati. Pangeran Darmokusumo sendiri yang memesan kepadaku untuk jangan sampai gagal membunuh engkau dan suamimu, heh-heh-heh, dan sekarang cita-cita beliau itu akan terlaksana..........!

"Iblis laknat engkau, bukan aku, melainkan engkau yang akan mampus mendahului Darmokusumo!" Kemarahan Endang Patibroto tak tertahankan lagi.

Kini ia makin percaya bahwa benar-benar Pangeran Darmokusumo hendak memberontak, dan lebih menjengkelkan lagi, berniat membunuh dia dan suaminya, kakak ipar pangeran itu sendiri. Alangkah keji dan jahatnya! Tak boleh ia mendiamkan saja. Pangeran itu harus diseret di muka umum, dihajar dan dipaksa mengakui semua rencana pemberontakannya! Dalam amarah, ia sudah mengeluarkan aji kesaktiannya, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, hawa sakti terkumpul di tubuh, berputaran merupakan hawa panas yang menjalar dan berputar-putar dari ujung kaki sampai di ubun-ubun kepala. Ia sudah siap menandingl kakek sakti ini.

Sambil terkekeh-kekeh Wiku Kalawisesa mengangkat tongkat hitamnya sambil mengeluarkan bunyi mencicit seperti suara kelelawar dan.........., tiga benda hitam tiba-tiba terbang menyambar kepala Endang Patibroto.. itulah tiga ekor kelelawar yang sejak tadi menggantung di bawah. Mereka ini menerjang Endang Patibroto, di bawah sinar pelita yang remang-remang itu tampak mata binatang-binatang ini merah bersInar-sinar, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang runcing, kuku-kuku melengkung terbuka siap mencakar.

Apa artlnya serangan tlga ekor kelelawar bagi Endang Patibroto? Biarpun tiga ekor kelelawar itu besar-besar, sebesar kucing, namun tanpa merubah kedudukan kaki, hanya dengan gerakan tangan kiri saja tanpa menggerakkan tangan kanan yang bertolak pinggang, Endang Patibroto berhasil menampar tiga kali berturut-turut, amat cepat gerakannya dan tiga ekor kelelawar itu mencelat, terlempar dan terbanting pada dinding pondok! Akan tetapi, tiga ekor binatang itu sudah terbang lagi menyambar, seakan-akan pukulan dan bantingan itu tidak mereka rasakan sama sekali.

Endang Patibroto terkejut. tamparan tangannya tadi cukup keras untuk membikin pecah kepala kerbau, bagaimana tiga ekor kelelawar itu hanya terlempar dan agaknya sama sekali tidak terluka? Ia mendengar kakek itu terkekeh dan kini bersama tiga ekor kelelawarnya, kakek itu sudah menyerangnya dengan tusukan tongkat hitam ke arah dadanya.

Endang Patibroto lega melihat betapa gerakan menusuk kakek itu tidak amat cepat, sungguhpun amat kuat. Mengertilah ia bahwa betapapun sakti kakek ini, namun dalam hal ilmu silat tidaklah tangguh. Kakek ini hanya mengandalkan keampuhan aji ilmu hitam dan tenaga mujijatnya saja. Dengan mudah ia mengelak sambil melangkah mundur, kemudian merendahkan tubuhnya membiarkan tiga ekor kelelawar menyambar lewat, kemudian dengan Aji Bayu Tantra tubuhnya mencelat ke depan, cepatnya melebihi seekor burung, dan tangannya sudah mengandung Aji Gelap Musti ketika dipukulkan ke dada Sang Wiku Kalawisesa.
"Dessss..........!!!"

Pukulan ini tepat sekali, mengenai dada yang hanya tulang-tulang dibungkus kulit. Endang Patibroto dapat merasa betapa kepalan tangannya bertemu dengan tulang-tulang iga. Akan tetapi anehnya, ada semacam hawa dingin yang menolak pukulannya, atau yang melindungi tulang-tulang itu sehingga tulang-tulangnya tidak remuk, hanya tubuh kakek itu yang terlempar ke dinding, dekat arca Bathara Kala.

"Aduuhhh.......... aduuhhh.......... aduuhhh.... ...... !" Kakek itu mengeluh panjang pendek dan begitu tongkatnya menuding ke arah Endang Patibroto, segumpal asap hitam menyambar. Asap ini tebal dan membawa bau apak seperti bau kelelawar.
Endang Patibroto miringkan tangan dan menampar dengan jari-jari terbuka, jari-jari yang mengandung Ajl Pethit Nogo.

"Pyurrr..........II" Asap hitam yang bergulung tebal itu ambyar mawut, membubung ke atas, menerobos atap hitam dan lenyap. Ketika itu, tiga ekor kelelawar sudah menyambar lag, lebih ganas daripada tadi. Endang Patibroto menjadi gemas, dua ekor dapat ia pukul terpental, yang seekor, paling besar dan yang tadi mengelilingi rumahnya, ia tangkap. Kedua tangannya bergerak, mencengkeram sayap dan..........

"krek-krekkkk ...... !" sepasang sayap binatang itu hancur berkeping-keping, dlcabik-cabiknya, kemudian tubuh binatang Itu dibantIngnya ke Iantai. Tubuh yang sudah tak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting lagi seperti sebuah bola, kemudian menggelundung ke sudut, mengeluarkan bunyi mencicit aneh seperti orang mengerang dalam sekarat.

Binatang itu tidak mati, agaknya memiliki kekebalan luar biasa akan tetapi tidak berdaya lagi karena sepasang sayapnya sudah hancur. Yang dua lagi datang menyambar. Endang Patibroto kembali menangkap mereka, merobek-robek sayap mereka dan membanting tubuh mereka seperti tadi. Dua ekor kelelawar inipun terguling ke sudut pondok, tak dapat menyerang lagi.

Dengan pandang mata mulai beringas, semangat dan kegembiraan bertanding mulai menggairah di hatinya, Endang Patibroto membalikkan tubuh, mencari Wiku Kalawisesa. Dilihatnya kakek itu berlutut memeluk kaki arca, mengeluarkan ucapan-ucapan mantera yang tak dimengerti maksudnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika ia melihat sepasang mata arca itu. Dari sepasang mata itu keluar sinar kehijauan yang hebat dan menyilaukan mata! Tanpa disadari Endang Patibroto memandang sepasang mata arca itu dan ia seperti orang kena pesona, tubuhnya menjadi kaku dan ia tak dapat mengalihkan pandang matanya daripada sinar mata hijau yang melekat pandang matanya itu!

Pada saat itu, perlahan-lahan Wiku Kalawisesa sudah bangkit dari berlutut, tertawa terkekeh-kekeh dan terhuyung-huyung menghampiri Endang Patibroto. Tangan kirinya mencabut keris kecil sejengkal, tangan kanan mengangkat tongkat hitam tinggi-tinggi di atas kepala.

"Heh-heh-heh,..........hi-hi-hih, bersiaptah mati kau Endang Patibroto.......... ha-ha!"

Endang hendak meloncat, tapi kedua kakinya seperti lekat pada tanah, hendak menggerakkan tangan akan tetapi kedua lengannya seperti lumpuh, hendak membuang muka tapi tak mampu melepaskan sinar hijau itu. Matanya perih dan lelah, amat lelah, mengantuk dan nikmat seperti kalau ia berada dalam dekapan suaminya. Suaminya! Tentu celaka kalau ia tidak segera menyelamatkan diri daripada pengaruh kekuatan mujijat. Suaminya yang tercinta! Endang Patibroto melihat dengan perasaannya bahwa Wiku Kalawisesa sudah datang dekat, ujung keris sudah makin dekat, siap menusuknya. Ia mengerahkan segala tenaga batinnya, membayangkan wajah gurunya Dibyo Mamangkoro yang tertawa terbahak-bahak, kemudian bagaikan sebuah bendungan air yang pecah, terdengar mulutnya mengeluarkan suara jerit melengking yang sama sekali tidak menyerupai jerit manusia, melainkan lebih mirip pekik auman harimau betina.

"Aaauuuuuhhhhhmmmmm..........!!!"

Luar biasa sekali pekik ini, karena ini bukan sembarang pekik, melainkan Aji Sardulo Bairowo yang suaranya mampu melumpuhkan lawan yang tangguh. Akibatnyapun hebat karena tiga ekor kelelawar yang tadinya mencicit-cicit belum mati, sekarang berkelojotan, kaku dan..... mati. Kakek sakti Wiku Kalawisesa yang tadinya sudah menyeringai kejam, siap menusuk dada dan menghantam kepala Endang Patibroto seketika menjadi pucat dan terhuyung ke belakang, ke dekat arca Bathara Kala. Akan tetapi yang amat menguntungkan bagi Endang Patibroto, pengaruh mujijat yang mempesonakannya tadi telah buyar, tidak mengikatnya lagi sehingga ia mampu bergerak seperti biasa. la maklum akan bahayanya sinar hijau dari mata arca itu, dan ia tahu bahwa ia tIdak boleh terlalu lama memandang sinar mata hijau itu. Ia meloncat ke depan dan menantang.

"Hayoh, Wiku Kalawisesa dukun lepus pendeta sesat, kerahkan seluruh kesaktianmu! Inilah Endang Patibroto yang takkan mundur setapak menandingimu. Akulah orangnya yang akan menamatkan riwayatmu yang kotor, mengirimmu ke asalmu menjadi intip neraka!"

Sumbar seperti ini sama sekali bukan terdorong oleh kesombongan, melainkan sebuah di antara taktik-taktlk pertandingan, karena sedikit banyak dapat melemahkan batin lawan, menimbulkan takut dan ragu. Padahal, pantangan bagi orang yang menghadapi lawan berat adalah ragu dan gentar, yang dapat mengurangi kewaspadaan.

Wiku Kalawisesa yang sudah amat kecewa karena kemenangan yang sudah di depan mata itu meleset dan gagal, sedikit banyak menjadi gentar juga. Ia tahu apa artinya pekik dahsyat tadi. Seorang yang sudah dapat memiliki aji seperti itu, bukanlah orang sembarangan. Aji itu tidaklah mudah dipelajari, membutuhkan kematangan tenaga dalam dan harus pandai mengatur dan menguasai "getaran". Akan tetapi, teringat akan hikmat arca pujaannya yang lebih ia percaya daripada segala apa di dunia ini, bahkan melebihi dirinya sendiri, bangkit kembali semangat kakek itu. Kini ia menerjang maju, gerakannya tidak cepat, tidak tergesa-gesa, bahkan perlahan-lahan seperti orang mengancam. Yang mengejutkan hati Endang Patibroto adalah keris kecil sejengkal itu. Dari keris ini memancar keluar sinar hijau yang mempengaruhinya seperti yang terpancar keluar dari sepasang mata arca Bathara Kala! Ia mundur-mundur dan mengambil kuda-kuda yang kuat untuk menghadapi lawan.

"Heh-heh-heh, kau takut, bocah sombong? Kau takut, ya? Heh-heh, kau akan mati di ujung kerisku ini!" kata Wiku Kalawisesa yang dapat melihat lawannya agak gentar menghadapi kerisnya. "Inilah keris pusaka Ki Kolokenaka! Inilah yang membunuh semua ponggawa, dan ini pula yang akan membunuhmu, lalu membunuh suamimu. Heh-heh !"

Hemm, keris ini berbahaya, pikir Endang Patibroto. Ia siap menanti terjangan lawan, awas terhadap kerisnya. Ia harus dapat menghalau keris itu, harus dapat merampasnya! Ia mundur-mundur memasang sikap, kedua tumitnya berjungkit, lengan kira ditekuk menyilang depan dada, tangan kanan dlangkat tinggi di atas kepala, semua jari tangan terbuka. Inilah gerak pembukaan Aji Wisang Nala! Tubuhnya dimasuki aji meringankan tubuh yang dulu ia pelajari dari ibunya, gerakan yang mengandung sari gerakan burung walet dan camar di Laut Kidul. Seluruh urat syaraf menggetar, siap dengan gerakan otomatis yang mendarah daging. Serangan datang dengan tusukan keris disusul hantaman tongkat. Dahsyat sekali.

"Siuuutt.......... wussss..........!"

==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 004 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment