Ads

Wednesday, January 23, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 005

<<== Kembali <<==

"Nini bocah ayu, siapakah engkau?" tanya Ki Patih Bratamanggala dengan sikap tenang dan sabar sambil memandang Suminten yang duduk bersimpuh di depannya dan menangis.

"Hamba Suminten, gusti patih, hamba adalah abdi dalem, pelayan Gusti Pangeran Panjirawit." Suminten menyembah dan berkata dengan suara gemetar.

Ki Patih yang sudah berusia lima puluh tahun lebih itu mengerutkan keningnya, kemudian sambil memandang penuh selidik bertanya,
"Heh, Suminten. Apa kehendakmu di pagi hari buta ini memaksa para pengawal, mohon menghadap kepadaku?" Hari itu masih pagi sekali, Ki Patlh Bratamenggala baru saja bangun tidur ketika kepala pengawal menghadap dan menyatakan bahwa, ada seorang gadis remaja memaksa minta menghadap karena urusan yang amat penting. Dari sikap pengawal ini, ki patih tahu bahwa tentu pengawal ini sudah mendengar akan urusannya dan mempertimbangkan bahwa hal itu amatlah pentingnya sehingga ia berani menyampaikan permohonan si gadis.

"Ampun beribu ampun, gusti. Hamba telah berani mengganggu paduka di pagi hari ini. Akan tetapi kepada siapakah gerangan hamba harus melaporkan peristiwa mengerikan semalam kalau tidak kepada paduka? Hamba tidak berani menghadap gusti prabu."

Berdebar jantung ki patih. Semalam ia sudah mendengar akan berita dahsyat yang mengabarkan tentang kematian Ki Demang Kanaroga, kematian yang mengerikan, seperti terjadi pada diri Tumenggung Wirodwipo dan yang lain-lain. Mengerikan berdarah sampai mati tanpa luka. Berita apa pula yang dibawa gadis ini, yang lebih mengerikan daripada peristiwa kematian Demang Kanaroga? Ia sedang bingung dan pusing serta gelisah memikirkan kematian-kematian itu, dan kini di pagi hari buta gadis ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek.

"Hemm, bocah ayu, tahukah kau bahwa bukan main-main menghadap dan mengganggu waktuku di pagi hari begini? Ceritakanlah dan berdoalah bahwa ceritamu cukup penting agar kau tidak membikin marah kepadaku."

Suminten tidak takut. la merasa yakin bahwa ceritanya amat penting, dan bahwa sudah bulat tekatnya untuk menyampaikan berita ini kepada ki patih. Hanya inilah yang dapat dilakukan seorang pelayan rendah seperti dia, hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan iri hati dan cemburu, melampiaskan duka karena tidak mendapat perhatian Pangeran Panjirawit yang dicintanya.

"Ampun, gusti patih. Semalam, tanpa hamba sengaja, hamba telah menyaksikan sesuatu yang hebat, perbuatan mengerikan dan menyeramkan yang dilakukan oleh.......... gusti puteri..........!!

"Gust! puteri..........?"

"Garwa (isteri) gusti pangeran," Suminten membenarkan.

"Isterl Sang Pangeran Panjirawit?" Ki patih tertarik. Tentu saja tertarik mendengar sesuatu tentang isteri pangeran itu, tentang Endang Patibroto, wanita sakti bekas kepala pengawal Jenggala sepuluh tahun yang lalu, yang telah menggegerkan seluruh kerajaan.

"Apa yang beliau lakukan?"

"Hamba.......... iihhh, hamba masih ngeri kalau mengenangkan semua itu..........!
Suminten menggigil.

"Tanpa hamba sengaja, hamba melihat gusti puteri bercengkerama dengan gusti pangeran, kemudian gusti puteri membuat sebuah boneka Si Petak..........”

"Siapa Si Petak?"

"Ayam kelangenan (kesayangan) gusti pangeran. Kemudian, gusti puteri mengambil tusuk kondenya dan ditusukkan paha ayam itu dan..........”

"Dan bagaImana?" KI Patih Bratamenggala makin tertarik, sampai terbungkuk dari kursinya agar lebih dekat dengan gadis itu dan lebih jelas mendengar penuturannya.

"Terdengar Si Petak memekik.......... dan.......... ketika kemudian hamba melihat ke kandang.......... paha Si Petak itu berdarah seperti ditusuk, padahal tidak ada lukanya sama sekali..........”

"Nanti dulu!" Ki patih membentak keras sampai Suminten terkejut. Wajah patih itu menjadi pucat, tangan yang memegang lengan kursi menggigil. "Coba ceritakan lagi dengan jelas!"

Kini Suminten bercerita lagi, tidak gugup macam tadi, diceritakannya semua tentang perbuatan Endang Patibroto menusuk boneka ayam putih dan betapa akibatnya ayam itu bercucuran darah pahanya. Berdebar jantung Ki Patlh Bratamenggala. Kiranya tidak kosong desas-desus itu! Desas-desus yang mengatakan bahwa semua pembunuhan yang terjadi atas diri para ponggawa Jenggala dan Panjalu adalah perbuatan Endang Patibroto. Apa maksudnya gerangan? Tentu tersembunyi nlat buruk. Perlu segera dilaporkan kepada sang prabu, sekarang juga!

Tergesa-gesa Ki Patih Bratamenggala berdandan setelah menyuruh Suminten menanti, kemudian Ia membawa Suminten pergi ke istana, menghadap Sang Prabu Jenggala. Di depan sang prabu yang mendengarkan dengan kening berkerut, berceritalah Ki patih tentang apa yang didengarnya dari Suminten. Sang prabu terkejut bukan main. Sesungguhnya di dalam hatinya, sang prabu tidak pernah senang mempunyai mantu Endang Patibroto yang selain bukan "darah kusuma" (darah bangsawan) juga riwayat hidupnya amat mengecewakan itu. Apalagi setelah ada kenyataan bahwa selama sepuluh tahun Endang Patibroto tidak mempunyai putera, ditambah lagi kenyataan bahwa Pangeran Panjirawit tidak mengambil selir yang tentu saja karena takut kepada isterinya, makin tak senang hati sri baginda.

Desas-desus akhir-akhir ini menambah rasa tidak senangnya, namun maklum bahwa puteri mantunya itu seorang sakti, sang prabu tidak pernah menyatakan sesuatu. Kini, mendengar pelaporan ini yang ada saksinya, sang prabu menjadi murka dan Suminten lalu disuruh mengulangi ceritanya. Dengan tubuh gemetaran karena takut, Suminten bercerita kembali dan makin besar amarah sri baginda. Setelah menitahkan pelayan. untuk membawa Suminten yang sejak saat itu "dillndungl" atau "diamankan" di dalam istana, menjadi anggauta kelompok abdi dalem sri baginda, maka sang prabu lalu mengajak ki patih berunding. Kemudian dipanggillah para pangeran dan pejabat tinggi dan akhirnya diputuskan untuk mengundang Pangeran Panjirawit beserta isteri ke istana!

"Kakang patih, kepadamulah kuserahkan tugas ini, undang Panjirawit dan isterinya ke istana menghadapku!" Persidangan lalu dibubarkan setelah sang prabu mengatur agar para pengawal siap untuk menangkap puteranya sendiri bersama mantunya, apabila beliau memberi perintah sewaktu-waktu setelah berwawancara dengan Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Dapat dibayangkan betapa bingung hati Pangeran Panjirawit ketika pagi hari itu ia kedatangan Ki Patih Bratamenggala yang menyampaikan perintah sandi prabu mengundang dia dan isterinya ke istana. Semalam ia tidak dapat tidur barang sekejap. Hatinya risau, gelisah memikirkan isterinya. Endang Patibroto tak kunjung pulang, dan sungguhpun kaki tangannya yang berdarah tiba-tiba sembuh kembali sebagai tanda akan berhasilnya usaha Endang Patibroto mencari musuh tersembunyi, namun hatinya tetap khawatir sekali.

Bagaimana ia tidak akan gelisah kalau isteri tercinta itu belum juga pulang? Sampai malam berganti pagi, Endang Patibroto belum pulang! Payah ia menanti-nanti di dalam kamar, lalu keluar dari kamar duduk di ruangan dekat taman, kembali ke kamar, makin lama makin risau. Duduk tak senang, tidur tak mungkin, hendak menyusul ke mana?
Wajahnya lesu dan kusut ketika ia menyambut kunjungan ki patih. Dan ia makin bingung mendengar perintah ramandanya. Bingung dan khawatir! Ada kepentingan apakah sampai sang prabu memanggil dia dan isterinya? Dan bagaimana ia harus menjawab karena isterinya tidak ada di rumah? Mengatakan sakit? Minta waktu diundur? Ramandanya tentu akan marah. Ia tahu atau dapat menduga dalam hati kecilnya bahwa isterinya tidak begitu disuka oleh keluarga ramandanya. Sikap mereka dingin dan hormat dibuat-buat kepada lsterinya. Kalau mengatakan isterinya pergi, pergi ke mana? Mana mungkin isteri seorang pangeran pergi begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya? Ah, la menyesal sekali mengapa malam tadi ia memperbolehkan isterinya pergi. Hatlnya sudah tIdak enak dan sekarang ia menghadapi hal yang lebih tidak enak lagi. Lebih baik berterus terang! Ya, tidak ada jalan lain baginya dan bagi kebaikan nama isterinya.

"Paman patih, sungguh amat menyesal hati saya bahwa untuk sementara ini tIdak mungkin saya mentaati perintah kanjeng rama, karena sesungguhnya..........isteri saya yayi dew! Endang Patibroto semalam telah pergi dan belum juga pulang sampai pagi hari ini."

Ki patih mengangkat alisnya, menghubungkan kepergian Itu dengan peristiwa yang ia dengar dari mulut Suminten.

"Ahhh, gusti puteri pergi? Eh, karena urusan ini mengenai panggilan kanjeng gust! sinuwun, kalau boleh hamba bertanya.......... ke manakah perginya, mengapa malam-malam?"

Dengan muka pucat Pangeran Panjlrawit memandang ki patlh, kemudian menarik napas panjang dan berkata,

"TIdak baik kiranya kalau saya sembuhyikan lagi, paman, setelah kini datang panggilan dari ramanda sinuwun."

Patlh itu mengangguk-angguk, mengira bahwa pangeran ini akan membuka rahasia isterinya, wanita slluman itu. Betapapun juga, ki patlh ini di dalam hatinya mencinta Pangeran Panjirawit yang terkenal sebagai pangeran yang halus budi pekertinya, ramah-tamah bahasanya, dan sopan tutur sapanya. La ingin melihat pangeran ini terlepas daripada "cengkeraman" wanita iblis Endang Patibroto.

"Memang seyogyanya begitulah, gusti pangeran. Lebih baik berterus terang sehingga hamba dapat menghaturkan laporan yang jelas dan lengkap kepada sri baginda."

Seorang abdi dalem datang berjalan jongkok, menghidangkan minuman. Percakapan terhenti sebentar dan Pangeran PanjlrawIt memberi tanda dengan tengah agar abdi dalem itu cepat-cepat pergi. Akan tetapi abdi dalem itu, seorang gadis berkulit kuning langsat berusia dua puluh tahun, meragu dan memandang kepada sang pangeran.

"Ada apa lagi? Pergilah?"

Gadis pelayan itu menyembah.
"Ampun kalau hamba mengganggu, gusti. Hamba hanya hendak melapor bahwa pagi hari ini Suminten pergi, entah ke mana tak seorangpun abdi mengetahuinya."
Kalau tidak sedang dirisaukan urusan besar, tentu Pangeran Panjirawit akan menjadi heran, menaruh perhatian atau setidaknya teringat akan gerak-gerik Suminten malam tadi. Akan tetapi pikirannya terlalu penuh oleh isterinya yang belum pulang dan oleh panggilan sang prabu, maka ia berkata tak sabar.

"Laporkan saja kepada Raden Sungkono agar dicari. Pergilah!" Abdi dalem meninggalkan mereka dengan langkah jongkok.

"Paman patih, malam tadi telah terjadi hal yang mengerikan. Paman tentu tahu akan peristiwa-peristiwa kematian para ponggawa yang mengerikan, bukan? Nah, malam tadi saya Sendiri telah diserang!"

"Haa..........??" Ki patih terbelalak, dan memandang :tubuh Pangeran Panjirawit yang tiada kurang sesuatu. Pangeran Panjirawit mengerti akan makna pandang mata ini.
"Memang, saya selamat, paman. Kalau tidak ada isteriku, kiranya pagi hari ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan ponggawa-ponggawa lain, mati berlumur darah tanpa luka.!!

Dengan wajah masih pucat ki patih berkata,
"Malam tadi Demang Kanoraga yang menjadi korban."

"Aiihh.......... kakang Demang Kanaroga juga..........?" Sang pangeran menghela napas, lalu melanjutkan, "Saya baru diserang pada lengan dan kaki. Malam tad! isteri saya yang merasa penasaran, memaksa diperkenankan keluar rumah untuk menyelidiki dan menangkap manusia atau iblis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Baru ia pergi, tiba-tiba lenganku sakit dan berdarah. Untung isteri saya datang tepat pada waktunya dan saya tertolong. Paman tentu tahu akan kesaktian isteri saya. KemudIa isteri saya pergi untuk mencari iblis itu dan.......... sampai pagi hari ini belum kembali. Oleh karena itu, sampaikan permohonan ampun saya kepada kanjeng rama, dan kalau beliau menghendaki saya seorang diri menghadap, beri kabarlah, saya tentu akan datang menghadap tanpa isteri saya."

Ki Patih Bratamenggala menjadi bingung sekali. Hatinya bertanya-tanya. Benarkah cerita ini? Lengan pangeran ini sama sekali tidak tampak bekas luka, atau tidak tampak bekas berdarah. Apa buktinya kebenaran cerita ini? Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengajukan pertanyaan ini, setelah minum hidangan lalu memohon diri. Ketika Sang Prabu Jenggala mendengar laporan ki patih, Ia termenung. Berkali-kali menarik napas panjang.

“Urusan ini sungguh ruwet dan meragukan. Biarlah kita menanti perkembangan selanjutnya, kakang patlh."

Sementara itu, dengan hati gelisah Pangeran Panjirawit memanggil Sungkono menghadap.
"Kakang Sungkono, ada tugas penting sekali bagimu."

"Hamba sudah mendengar dari abdi dalem, mencari Suminten yang lari..........”

"Persetan dengan Suminten!" Pangeran Panjirawit berseru tak sabar. "Bukan Suminten yang harus dicari, kakang Sungkono, melainkan gusti puteri!"

"Gusti puteri..........?" Raden Sungkono terkejut, menatap wajah junjungannya dengan heran dan kaget.

"Ya, gusti puteri. Dia malam tadi pergi, kakang. Kau tahu tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap ponggawa-ponggawa Jenggala dan Panjalu?"

Raden Sungkono mengangguk-angguk.
"Malam tadi Demang Kanaroga yang terkena," katanya.

"Benar. Nah, gustimu puteri malam tadi pergi untuk melakukan penyeiidikan, untuk menangkap si pembunuh laknat setelah menyelamatkan aku yang hampir saja menjadi korban juga."

"Paduka, gusti..........??" Kembali Sungkono terkejut.

"Tak usah ribut-ribut. Betapapun saktinya pembunuh pengecut itu, dia tak mungkin dapat mengalahkan gustimu puteri. Karena itu dia malam tadi pergi melakukan penyelidikan dan pengejaran."

Sungkono mengangguk-angguk.
"Memang sesungguhnya di dalam hati hamba juga mengambil kesimpulan bahwa penjahat iblis Itu hanya dapat dltangkap oleh gusti puteri yang sakti mandraguna."
"Benar, kakang. Sekarang, gustimu belum juga pulang. Aku merasa khawatir juga. Oleh karena itu, kau kerahkan anak buahmu, kau lakukan penyelidikan ke mana gustimu melakukan pengejaran dan apabila perlu, kau harus siap membantunya. Mengerti, kakang?"

"Mengertl dan siap, gusti."

"Baik, aku percaya kepadamu. Apapun yang terjadi dengan diriku di sini, kau tidak perlu mencampuri, yang penting lekas susul dan temukan gustimu puteri. Nah, berangkatlah sekarang juga, kakang Sungkono."

Setelah pengawalnya yang setia itu pergi, Pangeran Panjirawit termenung, hatlnya merasa tidak enak sekali, wajah isterinya yang tercinta terbayang-bayang dan minuman panas di meja sampai menjadi dingin tanpa disentuhnya.

==== 005 ====
==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 006 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment