Ads

Thursday, February 21, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 064

<<== Kembali <<==

Di kaki Gunung Anjasmoro sebelah utara merupakan pedusunan yang amat sunyi, yang hanya berpenduduk beberapa puluh keluarga petani miskin. Namun tempat ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kesunyian selalu merupakan sifat yang khas daripada keindahan alam. Di antara pondok-pondok kecil, gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu terdapatlah sekelompok bangunan yang dikurung pagar tembok.

Pintu gerbang dinding yang mengurung kelompok bangunan ini selalu terjaga oleh beberapa orang perajurit pengawal. Keadaan sekeliling pondok sunyi dan hening dan hanya beberapa kali saja setiap harinya ada pelayan tua yang keluar melalui pintu gerbang untuk mengurus keperluan penghuni pondok.

Pondok ini adalah tempat pengasingan atau pembuangan bagi bekas permaisuri, sang ratu dari Jenggala! Setelah sang ratu ini gagal menandingi Suminten yang sangat cerdik sehingga sang ratu yang hendak "menangkap basah" selir itu sebaliknya malah masuk perangkap, wanita tua ini sekarang menjadi seorang buangan, hidup bersunyi diri di dalam pondok yang dikurung dinding tinggi dan terjaga slang malam ini. Tidak pernah keluar dari pondok, tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali para pelayannya karena bekas permaisuri ini dilarang keluar, dan dilarang pula menerima kunjungan orang luar.

Akan tetapi pada suatu hari, lewat pagi, sepasang orang muda memasuki pintu gerbang dinding yang mengurung pondok pengasingan ini. Mereka berdua tidak dilarang oleh para penjaga, bahkan para penjaga cepat-cepat berlutut memberi hormat dan menyapa dengan penuh kehormatan kepada pria yang lewat menggandeng wanita itu. Mereka itu masih muda-muda dan keduanya amatlah eloknya, bagaikan sepasang dewa asmara Sang Hyang Komajaya dan Komaratih.

Kedua orang muda ini bukan lain adalah Pangeran Panji Sigit dan isterinya, Setyaningsih. Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah menikah di Padepokan Wilis, Pangeran Panji Sigit mengajak isterinya untuk ke Jenggala.

Pangeran Panji Sigit maklum bahwa kembalinya ke Jenggala merupakan perbuatan yang banyak resikonya bagi dirinya karena dia telah mempunyai seorang musuh yang berbahaya, yaitu Suminten. Akan tetapi karena pangeran ini amat mencinta ramandanya dan pula karena ia berpikir bahwa setelah ia beristeri, kiranya Suminten tidak begitu gila untuk menggodanya lagi, maka ia bertekad untuk pulang ke Jenggala. Di sepanjang perjalanan, pangeran yang amat memperhatikan keadaan ramandanya dan keadaan kota raja, bertanya-tanya dan alangkah kaget hatinya ketika ia mendengar segala peristiwa hebat yang terjadi di kerajaan ramandanya. Tentang pengangkatan Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota, sama sekali tidak mendatangkan kesan apa-apa di hatinya karena memang Pangeran Panji Sigit bukan seorang yang gila akan kedudukan. Peristiwa yang menimpa keluarga ki patih, yang didengarnya di jalan, dan tentang penggantian patih baru, hanya mendatangkan rasa haru dan kasihan di samping rasa penasaran mengapa paman patih yang dianggapnya amat baik dan setia itu sampai dijatuhi hukuman sekeluarga sedemikian mengerikan. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa ibunda ratu diasingkan, dibuang ke kaki Anjasmoro, Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.

"Setan betina, iblis laknat, siluman keji! Semua ini gara-gara dial" seru Pangeran muda itu sambil mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.

"Eh, Kakangmas .......... !" Setyaningsih menegur suaminya.

Pangeran Panji Sigit merangkulnya dan ia sadar, dapat pula menguasai hatinya yang terbakar. Setelah menghela napas panjang ia berkata,

"Diajeng, sungguh jahat sekali dia itu. Semua ini tentu hasil perbuatan Suminten. Aduh dewata Yang Maha Agung .......... mengapa Ramanda Prabu sampai tenggelam sedemikian dalamnya.......... Diajeng, mari kita pergi ke kaki Anjasmoro, lebih dahulu kita menjenguk Ibunda Ratu."

Perjalanan dilanjutkan. Kuda tunggangan mereka dilarikan lebih cepat dan akhirnya mereka dapat juga menemukan pondok pengasingan di kaki Gunung Anjasmoro. Para penjaga tentu saja mengenal Pangeran Panji Sigit yang memang sejak dahulu amat disuka oleh semua perajurit, maka dengan mudah saja Pangeran Panji Sigit dan isterinya memasuki pintu gerbang dan langsung mencari bekas permaisuri yang menurut para abdi sedang duduk seperti biasa di belakang pondok.

Hati Pangeran Panji Sigit terasa seperti disayat-sayat pisau ketika ia melihat wanita tua itu duduk bersila di atas lantai bertilam tikar. Wajah permaisuri itu masih agung, sungguhpun segala keadaan memperlihatkan kesederhanaan yang amat tidak pantas bagi seorang bekas ratu. Muka itu tidak dirias, tidak dibedaki, rambutnya digelung bersahaja ke belakang, rambut yang sudah bercampur banyak uban, tubuhnya ditutup libatan kain berwarna putih sederhana, pakaian seorang pertapa. Hanya sepasang gelang sederhana yang menghias kedua tangannya yang bertelanjang sampai ke siku. Sang ratu itu sedang duduk bersamadhi, hening dan tidak bergerak seperti sebuah arca. Wajahnya yang tua itu membayangkan ketenangan, namun gurat-gurat pada dahinya jelas membayangkan penderitaan batin yang hebat. Betapapun juga, mulutnya menjadi pencerminan kesabarannya sehingga makin mengharukan hati Pangeran Panji Sigit yang segera menggandeng tangan isterinya, diajak maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan sang ratu sambil berkata lirih,

"Duhai Ibunda Ratu yang mulia, hamba Panji Sigit bersama isteri datang menghadap Paduka.......... " kata Pangeran Panji Sigit dengan suara terharu.

Wanita itu membuka kedua matanya. Wajahnya berseri, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum, tanda bahwa hatinya gembira sekali.

"Panji Sigit........ Ah, Pangeran, alangkah gembira hatiku. Mendekatlah, Puteraku wong bagus..........“

Panji Sigit mendekat dan wanita tua itu lalu membelai rambut kepalanya. Sentuhan ini membuat hati Panji Sigit makin terharu sehingga dua titik air mata membasahi pipinya.

"Dia ini isterimu, Kulup? Ah, Nini, mendekatlah, Mantuku .......... !"

Setyaningsih menyembah dan menghampiri. Dengan kedua tangan di atas kepala kedua orang itu, sang ratu menengadah seolah-olah mohon berkah dewata untuk sepasang orang muda itu. Wajahnya jelas membayangkan keharuan dan kegembiraan.

"Duhai Ibunda Ratu .......... apakah yang telah terjadi .......... ? Paduka …….”

"Husshhhh, Panji Sigit puteraku. Tidak ada apa-apa denganku, cerita tentang aku tidak menarik. Lebih baik kauceritakan pengalamanmu semenjak kau pergi dari istana. Bagaimana sekarang tahu-tahu pulang membawa isteri yang begini cantik jelita? Anak nakal, agaknya engkau baru pulang dari taman sorga dan mempersunting seorang bidadari .......... “

Di dalam hatinya, Pangeran Panji Sigit makin terharu dan kagum sekali akan ketenangan dan ketabahan hati sang ratu. Sudah mengalami nasib yang demikian sengsara dan terhina, masih bersikap tenang, tidak menonjolkan penderitaan pribadinya. Dan seorang wanita yang begini telah dibuang oleh sang prabu! Maka ia pun menenangkan perasaan hatinya dan bercerita tentang pengalamannya setelah dia pergi meninggalkan istana. Betapa ia memasuki sayembara di lembah Wilis dan berhasil mempersunting Setyaningsih.

"Kanjeng Ibu, dia ini bukan orang lain, melainkan adik kandung dari Ayunda Endang Patibroto yang kini menjadi ketua Padepokan Wilis." Ia menutup ceritanya.

"Ahhhh .......... Endang Patibroto mantuku yang terkena fitnah dan .......... kasihan puteraku Panjirawit .......... Jadi Andika adik kandung Endang Patibroto? alangkah baiknya, kalian menyambung kembali ikatan yang terputus oleh keadaan. Aku girang sekali, Panji Sigit dan Setyaningsih."

"Duh Kanjeng Ibu, sekarang hamba mohon Paduka suka menceritakan, mengapa Paduka sampai menjadi begini ………. sungguh bingung dan sedih hati hamba mendengar dalam perjalanan tentang paduka .......... “

Sang ratu tersenyum.
"Apa yang engkau dengar, Pangeran?"

"Hamba mendengar cerita orang dalam perjalanan hamba bahwa Paduka di.......... diasingkan ke tempat ini oleh Ramanda Prabu karena katanya Paduka ..... Paduka melakukan fitnah kepada ibunda selir .......... “

Sang ratu mengangguk.
"Memang tampaknya begitulah, Puteraku. Akan tetapi sebetulnya di balik kenyataan ini terdapat rahasia-rahasia yang amat pelik. Nah, kau dengarlah penuturanku, karena engkau sebagai seorang Pangeran Jenggla berhak mengetahuinya." Maka berceritalah wanita tua itu dengan suara tenang dan sabar. Diceritakan segala peristiwa yang terjadi di dalam istana, yang tidak diketahui orang lain. Tentang sepak terjang Suminten dan Pangeran Kukutan tentang persekutuannya dengan ki patih yang baru, tentang kelemahan sri baginda dan kemudian betapa dia sendiri terjebal ke dalam perangkap yang mereka pasang yang menjebloskannya sehingga mengakibatkan dia terbukti melakukan fitnah dan dihukum buang.

"Ah, si keparat, iblis betina yang keji!" Pangeran Panji Sigit mengepa tinju, mukanya merah dan matanya terbelalak penuh kemarahan. "Agaknya dahulu pun dia sengaja menggoda dan menyinggungku agar aku pergi dari istana dan dia dapat berbuat sesukanya! Keparat!"

"Kakangmas, tenanglah .......... " Setyaningsih memperingatkan.

Sang ratu tersenyum.
"Wah, isterimu ini mengagumkan, Pangeran. Agaknya tidak semudah ayundamu dikuasai kemarahan. Dia benar, Puteraku, tenanglah dan ceritakan kepadaku, apa yang dia lakukan dahulu terhadap dirimu."

"Hamba .......... hamba merasa malu untuk menceritakan peristiwa menjijikkan itu, Kanjeng Ibu!"

"Biarlah hamba yang bercerita, Kanjeng Ibu. Sebelum Kakanda Pangeran pergi dari istana, Kakanda pernah digoda oleh .......... Ibunda selir, dibujuk rayu dan diajak bermain asmara. Kakanda Pangeran tidak mau melayani niatnya yang kotor itu, kemudian Kakanda yang merasa malu sekali lalu pergi meninggalkan istana."

Sang ratu mengangguk-angguk.
"Hemm .......... tidak aneh. Betapa banyaknya pangeran yang terjatuh oleh rayuannya! Syukur engkau teguh hati, Angger."

"Ibunda Ratu, kita harus menghancurkan iblis betina itu! Penghlnaan terhadap Paduka harus dibalas. Biarlah hamba yang .......... !”

"Jangan, Kulup. Jangan menurutkat hati panas. Ingatlah bahwa benci dan dendam hanya akan mengotori dan mengeruhkan batin sendiri. Aku tidak membenci Suminten, aku tidak mendendamnya, setelah aku mendapat ketenangan batin di sini baru kuketahui akan hal ini. Aku menerima nasib dan sisa hidupku yang tak lama lagi ini tidak boleh sekali-kali dikotori oleh benci dan dendam."

"Akan tetapi, lblis betina itu telah merusak kebahagiaan Paduka, telah menghina Paduka sehingga Paduka mengalami nasib sengsara seperti ini. Dia adalah musuh Paduka ..........”

"Keliru wawasanmu, Angger. Boleh jadi dia menganggap aku sebagai musuh, akan tetapi biarlah kalau begitu. Aku tidak menganggap dia atau siapa saja sebagai musuh, dan peristiwa yang menimpa diriku tidak kuanggap sebagai salah siapa-siapa, melainkan semata-mata adalah tepat seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa. Apa pun yang terjadi di dunia ini adalah tepat seperti yang dikehandaki-Nya, karena di luar kehendak-Nya, takkan terjadi sesuatu."

Diam-diam Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih menjadi kagum dan di dalam hati mereka tunduk terhadap wawasan yang sedemikian hebatnya, yang sukar dilaksanakan oleh siapa pun.

"Maaf, Ibunda Ratu, hamba takkan sanggup dan berani membantah kebenaran wejangan Paduka itu. Akan tetapi, kerajaan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis, kerajaan terancam bahaya, juga Ramanda Prabu .......... ah, betapa mungkin hamba yang melihat hal itu semua lalu berpeluk tangan, mendiamkannya saja?"

"Hal itu lain lagi persoalannya, Puteraku. Sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pangeran dan ksatria untuk membela Ramandamu dan kerajaan. Sudah menjadi kewajibanmu pula untuk menghalau musuh negara. Akan tetapi kalau demikian, semua tindakanmu mempunyai dasar yang bersih, bukan semata-mata karena kebencian dan hendak membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Mengertikan engkau akan perbedaannya, Angger Pangeran?"

Pangeran Panji Sigit mengangguk-angguk. Tahulah ia sekarang apa yang dimaksudkan ibu tirinya ini. Tentu saja sebagai seorang gemblengan, ia sudah banyak menerima wejangan dari guru-gurunya, sudah mengerti pula akan perbedaan antara dua perbuatan yang sama. Hanya sama tampaknya, namun seperti bumi dan langit perbedaannya yang terletak pada dasar perbuatan itu yang menjadi sebab. Membunuh dan membunuh tidaklah sama kalau membunuh yang pertama berdasarkan kebencian dan dendam sedangkan membunuh yang ke dua berdasarkan membela negara. Bukanlah perbuatannya yang dinilai, melainkan yang tersembunyi di balik perbuatan itu, pendorong dan pamrihnya.

"Hamba mengerti, Kangjeng Ibu. Akan hamba usahakan sekerasnya agar hamba tidak melibatkan persoalan pribadi dalam perjuangan hamba, melainkan persoalan membela negara dan melindungi Ramanda Prabu. Hamba bermohon diri, Kanjeng Ibu, sekarang juga hamba bersama Setyaningsih hendak mulai menentang dan menghalau iblis-iblis yang mencengkeram Kerajaan Jenggala."

"Kau terlalu sembrono, Pangeran. Kalian berdua tidak boleh pergi ke Jenggala, hal ini amat berbahaya bagi kalian berdua."

"Hamba tidak takut. Harap Kanjeng Ibu jangan khawatir. Selama hamba pergi merantau, hamba telah menerima banyak gemblengan ilmu dan di samping hamba ada Diajeng Setyaningsih yang memiliki kesaktian. Hamba berdua dapat menjaga diri. Pula, di kota raja banyak terdapat para ponggawa yang masih setia kepada Ramanda Prabu, dan banyak sahabat-sahabat hamba .......... “

"Ah, engkau tidak tahu, Angger. Seluruh ponggawa telah menjadi kaki tangan Kukutan. Dan ketahuilah bahwa Ki Patih Warutama memiliki kesaktian yang amat luar biasa sehingga dia berhasil menyelamatkan ramandamu dari serbuan orang-orang jahat seperti yang kuceritakan padamu tadi. Engkau sudah pernah bentrok dengan Suminten. Hal ini amat berbahaya bagimu. Sekali Suminten menudingkan telunjuknya kepadamu, engkau akan dikeroyok dan ramandamu takkan dapat berbuat apa-apa karena ramandamu kini tidak pernah keluar dari dalam kamarnya. Tak ada seorang pun sahabat yang berani membelamu, Angger."

Pangeran Panji Sigit mengerutkan alisnya yang tebal.
"Habis, apakah yang harus hamba Iakukan, Kanjeng Ibu? Apakah menerima nasib dan berdiam diri saja?"

"Hanya ada satu jalan terbaik yang dapat kutunjukkan kepadamu, Puteraku. Pergilah engkau bersama isterimu ke Panjalu. Di Jenggala sendiri sudah tidak ada orang yang akan dapat menolong kerajaan. Panjalu sajalah yang akan dapat mengatasi keadaan. Pergilah menghadap uwa prabu di Panjalu dan ceritakan semua yang telah kaudengar dariku tadi. Di sana banyak terdapat orang-orang pandai, bahkan Adipati Tejolaksono pun kabarnya berada di Panjalu menjadi patih muda. Nah, ke sanalah tempat engkau mencari bantuan, Angger."

Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang pemuda yang hanya menurutkan nafsu amarah. Mendengar nasehat ini ia dapat menerima, maka ia pun lalu berpamit dan pergilah ia bersama Setyaningsih menuju ke Panjalu. Setyaningsih juga merasa girang sekali karena mendengar bahwa Adipati Tejolaksono telah pindah ke Panjalu, dengan demikian dia akan mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan mereka, terutama sekali dengan Pusporini yang sudah amat dia rindukan. Tidak ada halangan merintangi perjalanan sepasang suami isteri yang perkasa ini, dan perjalanan dilakukan dengan cepat.
**** 064 ****

==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 065 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment