Ads

Friday, February 22, 2013

Perawan Lembah Wilis Jilid 066

<<== Kembali <<==

"Diajeng, maaf .......... aku akan membersihkan lukamu dari racun ...... "Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menempelkan mulutnya pada luka guratan di leher Widawati dan mengecupnya untuk menyedot darah dan mengeluarkan racun jika kiranya luka itu ada racunnya.

Akan tetapi begitu bibirnya mengecup luka di pangkal leher yang melekuk dan hangat itu, naik sedu-sedan dari dadanya yang membuat napas Wiraman menjadi sesak. Terpaksa ia memejamkan mata untuk melawan rangsangan hebat yang mengguncang seluruh tubuh dan perasaannya. Telinganya mendengar betapa Widawati mengeluh dan mengeluarkan suara aneh. Dia cepat menyedot darah yang terasa asin panas, meludahkannya, membuka mata kemudian menyedot lagi luka yang agak ke bawah di bawah tulang pundak kiri. Hampir ia tidak kuat menghisap luka itu karena pada saat itu dari dalam pusarnya naik rangsangan yang tidak wajar, yang membuat matanya berkunang, napasnya memburu kepalanya berdenyut-denyut. Pada saat itu, ia merasa betapa dua buah lengan yang halus hangat melingkari lehernya, betapa wajah yang halus dan panas itu mendekap mukanya, betapa hidung yang mancung itu mendengus-dengus seperti kehabisan napas. Widawati telah memeluknya, dan menciuminya!

Wiraman hanyalah seorang manusia biasa. Memang dia seorang manusia gemblengan yang telah lama berlatih untuk menguasai hawa nafsunya sendiri. Namun saat itu tanpa ia sadari, ia telah terbius oleh racun ular Puspo Wilis yang amat hebat. Racun yang keluar dari desis ular itu mula-mula telah meracuni Widawati sehingga dara itu menjadi terpesona, pandang matanya melihat beraneka warna cemerlang indah, telinganya berdengung-dengung mendengar gamelan yang merayu indah, dan tubuhnya terangsang oleh hawa nafsu yang selama ini belum pernah dikenalnya. Kemudian Wiraman juga terkena racun itu. Biarpun ia sudah berusaha untuk meneguhkan hatinya, untuk menekan perasaannya, namun keadaan tidak membantunya. Kalau saja ia tidak khawatir akan keselamatan Widawati, kalau saja ia tidak berusaha menghisap racun yang disangkanya berada dalam luka-luka guratan yang sebetulnya hanya guratan terkena duri-duri saja, agaknya pria itu akan dapat menguasai rangsangan yang timbul dari racun ular Puspo Wilis itu. Akan tetapi, keadaan tidak demikian. Dia harus menghisap luka-luka itu, di leher yang indah, di dada yang menggairahkan. Semua ini memperlipatgandakan rangsangan yang menguasainya, ditambah lagi dengan pelukan dan ciuman Widawati yang berada dalam keadaan tidak sadar dan dipermainkan oleh pengaruh racun. Wiraman jatuh!

Gadis yang telah menyelamatkan Wiraman pada detik terakhir tadi bukan lain adalah Pusporini. Dalam lomba lari mencari ular, Pusporini menang cepat, akan tetapi karena ia harus mencari-cari dengan teliti dan tidak dapat berlari cepat di dalam hutan itu, Joko Pramono dapat menyusulnya dan pemuda ini sudah mulai pula mencari-cari dalam hutan sebelum Pusporini berhasil menemukan ular Puspo Wilis yang dicari-cari. Kemudian, tiba-tiba terdengar pekik yang keluar dari mulut Widawati tadi. Pusporini yang berada dalam jarak lebih dekat, lebih dahulu tiba di tempat itu dan kebetulan sekali ia menyaksikan betapa ular itu sudah hendak mencaplok kepala Wiraman. Pusporini menggunakan Aji Bayu Tantra, tubuhnya mencelat ke depan laksana kilat menyambar dan dengan pukulan Aji Pethit Nogo ia menghantam ke arah kepala ular itu!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya menyaksikan betapa ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulannya Pethit Nogo, melainkan tersentak ke belakang, melepaskan lingkarannya dan melemparkan tubuh Wiraman sampai jauh. Pusporini maklum bahwa ular inilah yang dimaksudkan Sang Resi Mahesapati, maka ia cepat menerjang maju lagi dengan pukulan Pethit Nogo yang lebih keras lagi ke arah moncong yang mendesis-desis itu.

"Desss .......... !!"

Pukulan Pethit Nogo amatlah ampuhnya, akan tetapi benar-benar luar biasa sekali ular itu karena kepalanya tidak pecah terkena pukulan itu, hanya desis mulutnya makin menghebat seolah-olah dia bersambat kesakitan. Tubuhnya kini sudah membelit pohon lagi dan kepalanya bergoyang-goyang kemudian ia membalas dengan luncuran kepalanya yang amat cepat, mengimbangi kecepatan gerak tangan Pusporini tadi. KepaIanya itu seolah-olah merupakan tangan seorang lawan tangguh yang mengirim pukulan ke arah dada Pusporini, bahkan lebih hebat daripada pukulan orang karena mulutnya terbuka, mengirim semburan uap kehijauan dan giginya siap menggigit. Pusporini penasaran dan menangkis, akan tetapi biar pun ia berhasil menangkis serangan itu, ketika lengannya bertemu dengan leher ular, tenaga serangan binatang itu membuat ia terhuyung ke belakang. Dan ular itu dengan amat cepatnya sudah menerjang lagi dengan mulut mendesis-desis.

"Plakk!!" Kepala ular itu terlempar belakang oleh sebuah pukulan keras yang dilakukan Joko Pramono yang sudah tiba di situ. Hebat pukulan ini, tidak kalah hebat oleh Aji Pethit Nogo tadi, bahkan mengandung tenaga yang lebih kuat lagi karena itulah pukulan dengan Aji Cantuka Sekti. Namun ular itu hanya pening sebentar karena kembali ia sudah membalas dengan serangan kuat ke arah leher Joko Pramono yang tertegun dan cepat menangkis.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" Pusporini membentak.

"Aku tidak membantumu! Kita berlomba membunuhnya!" jawab Joko Pramono.

Celakalah binatang itu karena sekarang dia dikeroyok dua oleh sepasang orang muda sakti yang berlomba untuk membunuhnya! Betapapun kuatnya ular yang sudah ratusan tahun umurnya ini, berat juga ia menanggulangi amukan dua orang muda murid Sang Resi Mahesapati. Ia menjadi bulan-bulan pukulan sakti, tidak mampu balas menyerang dan untuk melampiaskan kemarahannya, ular itu terus-menerus mendesis-desis mengeluarkan uap hijau yang makln lama makin tebal. Dua orang muda itu tadinya terlalu mengandalkan kekebalan tubuh dan kekuatan hawa sakti mereka, akan tetapi lama-kelamaan mereka menjadi terkejut sekali karena napas mereka sesak dan pandang mata mereka selain berkunang-kunang juga mulailah tampak warna-warna cemerlang yang amat aneh.

"Pusporini .......... hati-hati .....racun .......... !" Joko Pramono memperingatkan, agak terengah napasnya.

"Kalau takut racun, pergilah!" jawab Pusporini tak acuh sungguhpun ia sendiri merasa heran mengapa pandang matanya melihat warna-warni cemerlang sehingga wajah Joko Pramono memiliki warna cemerlang yang amat indah dan luar biasa.

Keduanya kini mengerahkan tenaga dan biarpun ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulan-pukulan mereka, akan tetapi jelas menjadi agak lemah. Bahkan kini ekor yang tadi membelit pohon telah terlepas dan membelit tubuh Joko Pramono. Pemuda ini mengerahkan hawa saktinya sehingga belitan yang kuat itu tidak terasa olehnya, malah ia sudah mencengkeram perut ular itu. Pada saat yang sama, Pusporini yang mengelak dari gigitan kepala ular itu, cepat sekali menggunakan kesempatan itu menangkap leher ular. Tadi tidak mungkin hal dilakukan karena ular itu memiliki gerakan yang amat gesit. Akan tetapi setelah tenaganya berkurang dan agaknya binatang itu lelah, kegesitannya pun berkurang sehingga lehernya dapat ditangkap Pusporini.

Melihat ini, Joko Pramono takut kalau ia sampai kalah, maka ia membetot tubuh ular yang ia cengketam perutnya itu. Purporini tidak mau kalah, ia juga membetot leher binatang itu. Terjadilah tarik-menarik antara Pusporini dan Joko Pramono. Sungguh sial binatang itu yang kini tidak mampu bergerak, dijadikan seperti tambang untuk tarik-tarikan adu tenaga. Kekuatan ular terletak pada urat-urat di tubuhnya yang dapat digerak-gerakkan dan dapat menggeliat-geliat. Kini setelah tubuhnya ditarik, lumpuhlah dia. Dua orang muda itu terus menarik, mengerahkan tenaga saktinya dan ..........

"krakk .......... !" tubuh ular itu terobek dan putus menjadi dua! Bagian belakangnya berada di tangan Joko Pramono sedangkan bagian depannya berada di tangan Pusporini.

Dua bagian tubuh ular itu masih menggeliat-geliat hidup, bahkan bagian depan yang berada di tangan Pusporini tiba-tiba melakukan gerakan sarentak dan kulit tubuhnya mengeluarkan minyak, kepalanya mendesis keras dan .......... tubuh itu dapat melepaskan diri dari pegangan Pusporini. Dari kepala sampai ke bagian tubuh yang buntung masih ada semeter lebih panjangnya. Ular yang tinggal sepotong itu begitu tiba di tanah lalu meluncur cepat hendak melarikan diri.

Pusporini seperti orang terpesona atau bingung karena dia berdiri terbelalak saja memandang. Adapun Joko Pramono ketika melihat ini, melemparkan bagian belakang ular yang berada di tangannya kemudian berteriak,.......... ,

"Pusporini! Jangan biarkan dia lari…..!

Pemuda Itu menubruk, berbareng dengan Pusporini yang juga menubruk, agaknya gadis ini sadar kembali oleh teriakan Joko Pramono. Mereka masih berlomba, berebutan. Begitu ular itu dapat ditangkap, dua pasang tangan berebut dulu menangkap bagian kepala dan merobek mulut ular itu.

''Kraaaak .......... brettttt .......... !" Uap hijau makin tebal mengepul.

Kedua orang itu tidak memperdulikan, melainkan berebut mencari batu mustika yang menurut guru mereka berada di kepala ular. Mulut ular sudah robek menjadi dua dan kini tampaklah benda mencorong di telak (rongga mulut atas) yang bersinar hijau. Karena perebutan ini, tangan mereka bertemu dan cengkeraman mereka membuat setengah kepala ular bagian atas itu hancur. Sinar berkelebat dan sebutir batu bulat lonjong meloncat karena licin sekali dari dalam kepala yang hancur, jatuh ke atas tanah. Itulah mustika ular yang dimaksudkan Sang Resi Mahesapati, sebuah batu hijau mencorong yang besarnya hanya seibu-jari kaki.

Melihat benda ini, Joko Pramono dan Pusporini menubruk ke bawah dalam detik yang sama. Karena mereka tergesa-gesa dan batu itu amat kecil, apalagi karena pandang mata mereka telah disilaukan warna-warni yang aneh, mereka bertubrukan dan saling cengkeram. Tanpa disengaja, Pusporini memegang lengan Joko Pramono, sedangkan pemuda itu pemegang kedua pundak Pusporini. Mereka beradu pandang, muka mereka hampir beradu dan pada saat itulah terjadinya getaran yang amat hebat, yang membuat keduanya menggigil, mata saling pandang, napas agak terengah dan batu mustika ular dilupakan. Bagaikan dalam mimpi, mereka saling pandang penuh kemesraan, penuh gairah dan berahi, mulut berbisik lirih,

"Pusporini .......... !”

"Joko Pramono ..........!”

Bagaikan digerakkan tangan-tangan setan yang tak tampak, dua muka yang elok itu saling berdekatan, hidung sudah hampir saling menyentuh, hembusan napas masing-masing terasa hangat di pipi. Rangsangan yang hebat menguasai mereka, mendorong hasrat ingin saling berpelukan, saling berciuman, saling melimpahkan cinta kasih. Tangan mereka menggigil dan mulut mereka sudah saling berdekatan, bibir sudah saling bersentuhan. Pada saat itulah, keduanya sadar ketika pandang mata mereka bertemu kembali.

"Ah, ini tidak benar!" seru Pusporini melepaskan pelukannya.

"Memang salah! Harus kita lawan.......... !" Joko Pramono juga berseru dan keduanya melepaskan pelukan dan meloncat mundur.

Akan tetapi mereka terhuyung lagi ke depan, saling pandang penuh kasih mesra dan sebelum mereka sadar apa yang mereka lakukan, keduanya sudah saling tubruk dan saling rangkul. Joko Pramono menundukkan mukanya mencium Pusporini dengan penuh nafsu yang dibalas oleh gadis itu tanpa malu-malu lagi, dengan mata setengah dipejamkan.

Akan tetapi setelah ciuman yang bagi mereka seakan tiada putus-putusnya itu mereka saling berpandangan dekat sekali dan melihat bayangan sendiri di dalam manik mata masing-masing, kesadaran mereka membuat keduanya memekik keras, melepaskan dekapan dan meloncat tiga tindak ke belakang, berdiri terbelalak. Mereka berdua melawan rangsangan yang membuat mereka ingin saling dekap dan ingin melakukan hal-hal yang lebih berani lagi untuk melampiaskan dorongan hasrat yang amat kuat, dan terdengarlah Joko Pramono berkata terengah-engah,

"Pusporini.......... racun.......... racun ular.......... kita harus melawan.......... kumpulkan hawa sakti.......... bernapas sempurna mengusir hawa jahat .......... !”

Pusporini yang terengah-engah mengangguk dan keduanya lalu menjatuhkan diri duduk bersila dan melakukan samadhi sekuat mungkin, melawan rangsangan yang amat hebat itu. Sungguhpun mereka itu adalah orang-orang gemblengan, namun mereka masih muda dan masih berdarah panas maka dapat dibayangkan betapa sukarnya melawan racun yang merangsang nafsu berahi itu. Syukur bahwa keduanya adalah murid-murid sang sakti Resi Mahesapati yang sudah cukup mengisi mereka dengan kekuatan batin yang dahsyat sehingga setengah jam kemudian mereka pun sudah berhasil mengusir hawa beracun dari tubuh dan kepala mereka. Keduanya sadar dan begitu membuka mata saling berpandangan, keduanya malu sekali. Entah mana yang lebih merah mukanya, Pusporini ataukah Joko Pramono. Akan tetapi pengalaman itu membuat mereka berdua makin yakin akan perasaan hati selama ini bahwa biarpun lahirnya mereka selalu berlomba dan bersaingan, namun di dalam hati mereka sudah berakar benih cinta kasih yang mendalam.

"Batu mustika itu .......... !" kata Joko Pramono tiba-tiba dan keduanya memandang ke arah batu yang masih terletak di antara mereka. Akan tetapi aneh sekali. Kini keduanya tidak bersicepat berdahuluan merebut batu. Keduanya tetap duduk bersila dan tenang-tenang saja. Ketika kembali mereka beradu pandang, keduanya menunduk dan tahulah mereka bahwa kini mereka tidak berpura-pura lagi, tidak perduli akan batu mustika itu, tidak ingin bersaing dan mengalahkan satu kepada yang lain.

"Pusporini .......... “

"Hemm .......... ?" Tanpa mengangkat muka Pusporini menjawab lirih.

"Batu itu .......... mengapa tidak kau ambil?"

"Kau ambillah, sama saja."

Joko Pramono tidak bergerak dari duduknya dan sunyi sampai lama.
"Pusporini .......... “

"Hemmm.......... ?”

"Alangkah bahayanya racun itu.........”

"Benar, mengerikan .......... “

"Untung engkau kuat .......... “

"Engkau pun kuat, Joko Pramono."

"Hemm, masih baik kita berdua sadar. Hal itu berarti bahwa kita saling menghargai, bahwa kita saling .......... “

"……… apa .......... “

"Saling m├źncinta !”

"Husshhh!". Setelah kini terlepas dari bahaya yang mengerikan itu, saking girangnya Pusporini mulai timbul kembali kegalakannya, sungguhpun kini dia sama sekali tiada niat untuk bersaing lagi dengan Joko Pramono.

"Pusporini, tidakkah kau merasa di dalam hatimu seperti yang kurasakan sekarang?"

Pusporini mengangguk lalu menyambung,
"Sudahlah. Kau bawa batu itu dan kita kembali kepada Eyang Resi. Kita serahkan batu itu kepada Eyang Resi."

Joko Pramono tersenyum penuh kebahagiaan, lalu bangkit, mengambil batu, membersihkannya dari darah dengan bajunya, mengamatinya sebentar penuh kekaguman, lalu menghampiri Pusporini yang juga sudah bangkit. Ia menyerahkan batu itu dan berkata,

"Kau yang membawa dan menyerahkannya kepada Eyang Resi, Pusporini."

"Tidak! Kau saja .......... “

"Aku laki-laki, aku lebih patut mengalah."

Mereka berdiam. Pusporini menerima batu itu dan keduanya sejenak merasa terheran-heran akan perubahan yang mendadak ini. Tadinya mereka ingin sekali saling mengalahkan dan bersaing, kini mereka ingin sekali saling mengalah.

"Eh, kulihat tadi si laki-laki gagah dan gadis itu .......... ke mana mereka?"

Joko Pramono tiba-tiba bertanya dan memandang ke kanan kiri. Pusporini juga teringat, cepat menyimpan batu mustika ular di dalam kembennya dan juga mencari-cari denga pandang matanya.

"Ah, jangan-janga mereka telah tewas karena racun ular. Mari kita mencari mereka."

Keduanya lalu melompati bangkai ular dan mencari-cari. Tak lama kemudian mereka berdiri terhenyak dan memandang ke atas rumput tebal di bawah pohon, di mana mereka melihat laki-laki itu dan gadis yang berpakaian robek-robek rebah di situ! Keduanya agaknya pingsan dalam keadaan masih saling berpelukan!

"Ihhh .......... Bedebah! Tak tahu malu!" Pusporini berseru sambil membuang muka. Ia dapat menduga apa yang telah terjadi antara kedua orang yang masih berpelukan itu.

Wajah Joko Pramono juga menjadi merah sekali, dan ia hanya dapat berkata lirlh,
"Betapa mungkin mereka masih dapat berbuat seperti itu .......... ?”

"Dasar manusia rendah! Lebih baik kubunuh saja!" seru Pusporini sambil menyambar sebuah batu besar di dekatnya. Akan tetapi Joko Pramono cepat memegang lengannya. Dia teringat akan sesuatu dan cepat berbisik,

"Jangan, Pusporini! Ingatlah keadaan kita tadi! Kita yang sudah lama melatih diri dengan segala ilmu kesaktian, masih hampir tidak kuat menghadapi rangsangan hawa beracun. Tentu mereka berdua juga menjadi korban hawa beracun ular itu."

Pusporini melepaskan batunya dan menghela napas sambil mengangguk.
"Kalau begitu ...... patut dikasihani mereka itu .......... siapakah gerangan mereka?"

"Kita bersembunyi di sana.......... ssttt, mereka sudah bergerak. Kita dengarkan apa yang mereka katakan dan kalau memang laki-laki itu seorang jahat, aku yang akan memberi hajaran kepadanya. Mari .......... !" Keduanya meloncat dan menyusup ke dalam semak-semak, mengintai.

"Aduh .......... Jagad Dewa Bathara .......... ! Apa yang telah kulakukan ini .... ??" Begitu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya rebah berpelukan dengan Widawati, Wiraman meloncat bangun. Melihat keadaan pakaian gadis itu cepat ia membereskan dan menyelimuti gadis itu dengan sarungnya karena baju gadis itu robek-robek, kemudian ia duduk, menghela napas berkall-kali kemudian menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Aku telah gila......... ! Gila .......... Gila .........!" Wiraman menampari kepala sendiri dan merenggut-renggut rambutnya.

Isak tangis yang terdengar tiba-tiba membuat Wiraman menurunkan kedua tangannya dan ia memandang Widawati yang sudah duduk menangis itu dengan wajah pucat. Gadis itu menangis terisak-isak dan air matanya mengalir turun melalui cela-cela kedua tangan yang menutupi muka.

Beberapa kali Wiraman menelan ludah, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut, kemudian dapat juga ia berkata, suaranya gemetar dan lirih,

"Di ajeng Widawati .......... aku .......... aku berdosa .......... aku telah merusakmu .......... aku manusia berhati binatang. Aku terkutuk! Aku patut dihukum seberat-beratnya, seribu kali mati pun masih belum dapat mencuci dosaku kepadamu. Akan tetapi, demi semua Dewata, aku bersumpah bahwa itu yang kulakukan tadi benar-benar terjadi di luar kesadaranku, Diajeng…………”

Widawati masih menangis, makin mengguguk sampai pundaknya terguncang.
"Diajeng, penyesalanku lebih besar daripada penyesalanmu. Percayalah dan sebagai bukti, biarlah kausaksikan kepalaku remuk oleh batu ini! Selamat tinggal, Diajeng .......... !”

"Kakang.......... ! Jangan.......... !!" Widawati yang menurunkan kedua tangannya dan melihat betapa laki-laki itu sudah mengangkat sebuah batu besar hendak ditimpakan kepalanya sendiri, menjerit dan menubruk. "Jangan, Kakang ……… lebih baik kaubunuh aku lebih dulu………..” Dan ia menangis tersedu-sedu.

Wiraman menjadi lemas. Diturunkan batu itu dan dielus-elusnya rambut kepala yang bersandar di dadanya.

"Diajeng Widawati .......... apakah yang kau maksudkan? Mengapa engkau berkata demikian? Aku telah menodaimu aku telah berdosa dan aku hendak menebus dosa dengan nyawaku. Mengapa kau melarangku?"

Widawati masih menangis di dada Wiraman ketika ia menjawab,
"Kakang......... bukan kesalahanmu seorang........., aku teringat semua sekarang .......... ah, akulah yang bersalah .......... aku gadis tak tahu malu .......... aku.......... aku yang menggodamu, Kakang........!"

Wiraman mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat. Terbayanglah semua peristiwa tadi, peristiwa yang amat mesra namun juga amat memalukan setelah kini diingat dalam keadaan sadar. Memang sesungguhnyalah, dia tidak memperkosa Widawati, hal itu terjadi bukan karena kekerasan atau bujukan. Sama sekali bukan, melainkan terjadi atas kehendak kedua fihak. Terjadi karena rangsangan yang luar biasa, yang membuat keduanya seperti mabuk, melakukan hal itu karena tidak dapat menguasai diri sendiri, tidak sadar menjadi boneka-boneka yang dikuasai nafsu, dipermainkan rangsangan nafsu sampai mereka pingsan.

Wiraman menarik napas panjang.
"Sekarang aku pun ingat, Diajeng. Tidak salah lagi, kita menjadi korban hawa racun ular itu.......... ah, setan telah menguasai kita berdua .......... dan .......... dan hal itu telah terlanjur .......... terjadi di luar kesadaran kita."

"Aku... aku malu sekali, Kakang. Kaubunuhlah aku ………”

Wiraman mendorong kedua pundak gadis itu, memaksanya untuk beradu pandang dengannya. "Diajeng, setelah hal itu terjadi di luar kesadaran kita .......... apakah .......... apakah engkau merasa terhina? Apakah engkau merasa menyesal?"

Widawati terpaksa memandang wajah Wiraman dengan mata merah dan muka basah air mata. Ia menggeleng kepala.

"Bukan merasa terhina atau menyesal .......... hanya malu .......... karena aku .......... seolah-olah telah merampasmu dari isterimu, Kakang .......... “

Wiraman menarik napas panjang lagi.
"Ah, jangan berkata demikian, Diajeng Widawati. Hal ini telah terjadi di luar kehendak kita, berarti bahwa Hyang Widi Wisesa telah menentukan demikian. Kalau engkau sudi .......... aku pun bersumpah bahwa mulai saat ini kau kuanggap sebagai seorang Isteriku .......... dan aku akan melindungimu sebagai seorang suami, selama-lamanya, Diajeng ........"

Widawati mengeluh dan menyandarkan mukanya di dada Wiraman.
"Ahh, Kakang .......... aku hidup sebatangkara di dunia ini, hanya engkaulah yang kupandang, hanya engkau seorang yang menjadi sandaran hidupku .......... tadinya engkau kuanggap sebagai seorang kakak, sebagai pengganti orang tua dan saudara-saudaraku .......... akan tetapi, sekarang terjadi hal ini .......... terserah kepadamu, Kakang, terserah kebijaksanaanmu."

"Jangan khawatir, kelak kalau bertemu dengan keluargaku, akan kuceritakan semua peristiwa ini. Isteriku seorang yang bijaksana, tentu dapat memahami dan akan menerimamu sebagai saudara muda dengan tangan dan hati terbuka."

Agak lega hati Wiraman bahwa peristiwa yang mengerikan itu berakhir dengan dipertemukannya hatinya dengan hati Widawati sehingga terdapat persesualan faham. Tiba-tiba ia teringat akan dua orang muda sakti yang tadi telah menolongnya.

"Ah, di mana mereka .......... ? Diajeng, kalau tidak ada dua orang muda yang sakti mandraguna datang menolong, tentu kita berdua telah berada di dalam perut ular itu."

Widawati bergidik.
"Aku pun samar-samar melihat berkelebatnya bayangan mereka. Mari kita cari mereka, Kakang…….”

Keduanya bangkit berdiri dan Widawati kini menggunakan sarung Wiraman untuk menutupi tubuh atasnya, karena pakaiannya koyak-koyak. Akan tetapi ketika mereka berdua keluar dari belakang semak-semak, mereka melihat dua orang muda sakti itu berdiri dengan wajah berseri. Seketika wajah Widawati menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar penuh kekhawatiran. Apakah kedua orang muda itu melihatnya dan mendengarkan semua percakapannya dengan Wiraman? Akan tetapi, Wiraman segera maju dan memberi hormat.

"Syukur kepada para Dewata Yang Agung bahwa Andika berdua dalam keadaan selamat. Saya yakin bahwa Andika berdua yang sakti mandraguna telah berhasil membunuh ular siluman itu. Bolehkah kami mengenal nama Andika berdua yang sakti mandraguna?"

Joko Pramono yang tadi mendengarkan percakapan mereka dan bersama Pusporini mendapat kesan baik atas diri Wiraman dan Widawati, juga merasa kasihan kepada dua orang itu, membalas penghormatan itu dan menjawab,

"Nama saya Joko Pramono dan dia ini adalah adik seperguruan saya, namanya Pusporini. Kami adalah murid-murid Sang Resi Mahesapati yang mentaati perintah guru kami untuk membunuh ular sakti Puspo Wilis. Andika siapakah dan mengapa sampai berada di dalam hutan liar ini?"

Berdebar jantung Wiraman. Dia telah diselamatkan oleh dua orang sakti ini, dan mereka itu telah mengaku dan memperkenalkan diri secara terus terang. Sungguhpun dia belum pernah mendengar nama mereka, belum pula mendengar nama Sang Resi Mahesapati, namun ia dapat menduga bahwa mereka ini tentu murid-murid seorang pertapa yang maha sakti. Sudah sepatutnya sebagai orang yang berhutang budi, ia mengaku terus terang akan keadaannya dan keadaan Widawati. Akan tetapi, mengingat bahwa mereka berdua adalah orang-orang buruan yang harus melakukan perjalanan secara rahasia, membuka rahasia mereka berarti membahayakan keselataman Widawati. Wiraman merasa serba salah dan setelah ragu-ragu sebentar, ia lalu menjawab, setengah benar setengah bohong,

"Nama saya Wiraman dan dia ini adalah adik misan saya bernama Widawati. Kami berdua adalah perantau-perantau dari dusun yang hendak pergi ke kota raja Panjalu, dengan niat mencari pekerjaan di sana .......... “

==>> Perawan Lembah Wilis Jilid 067 ==>>
<<== Kembali <<==

No comments:

Post a Comment